MAKNA CINTA...

Hari menjelang sore…
Dia mencoba meregangkan badan dan tangan-tangannya yang lelah seharian ini sembari melihat ke balik jendela. Dipandanginya bangunan sebelah…iya, bangunan sebelah yang semakin temaram saja. Jelas perkuliahan telah selesai sejak tadi. Hari ini berlalu seperti halnya biasa…dengan tugas-tugas yang seperti biasa…hilir-mudik seperti biasa…dengan orang-orang yang itu-itu juga seperti biasa…
dan dia kembali berada di ruangan ini, sebuah ‘gua’ kecil yang digunakannya untuk berkonsentrasi seperti biasa…menekuni waktunya dengan membaca, menganalisis, dan menulis, seperti biasa…benar-benar rutinitas yang seperti biasa…mungkin orang akan berkata, “…betapa membosankannya kehidupanmu ya…”. Walau mereka berkata begitu, tapi tidak baginya…karena dia menyukai pekerjaannya…tugas yang diamanahkan padanya. Walau terkadang lelah luar biasa,
tapi dia senang dan sangat bersyukur…karena mendapat banyak sekali  pelajaran dari Allah yang telah menyayanginya dengan memberikan begitu banyak pengalaman…Ohh, betapa indahnya dunia ini jika hati ini selalu bisa ikhlas bersyukur pada-NYA…

Siang tadi, dia kembali lagi dari luar…mengemban tugas seperti biasa…hmmmm. Tapi hari ini ada sesuatu yang terselip dibenaknya. Sebenarnya tidak baru muncul hari ini, tapi sudah ‘terselip’ sejak berhari-hari yang lalu…sejak dia baru menyadari…akan arti sesuatu yang sangat ‘berharga’…yang telah lama tersimpan…tapi tak pernah tersentuh…atau mau disentuh dan diganggu olehnya…karena dia memang sengaja menjaganya…khusus untuk seseorang…yang akan menjaga, menyayangi, dan menuntunnya kelak…setulus hati…di dunia dan di akherat. Sesuatu yang ‘berharga’ itu mulai bergeming, terusik oleh kejadian-kejadian di luar sana…”apakah yang sedang terjadi di luar sana…yang membuatku tersadar dan terbangun?”. bisiknya dalam mimpi…’dia’ mulai sedikit membuka matanya…sedikit ’silau’, tidak mengerti, dan bingung…karena ‘dia’ masih sangat muda, tidak tahu apa-apa…walau belum sepenuhnya terbangun, tapi ‘dia’ sudah mulai tersadar dari tidurnya yang begitu panjang…entah sejak kapan  ‘dia’ tertidur…karena ‘dia’ sendiri tidak bisa ingat…kapan ‘dia’ diciptakan…dan ditempatkan dalam ‘penjagaan’ tubuh dia…

Sekembalinya ke ‘gua’ kecil tempat ‘tidur’nya sehari-hari…dia mulai termenung lagi…memikirkan sesuatu yang tidak pernah mau difikirkannya sebelumnya…yang coba disembunyikannya…tapi sekarang tak berdaya dihalanginya lagi…ya, begitu banyak yang terjadi, yang menggodanya, ‘menyerangnya’…hingga membuatnya begitu rapuh dan memerlukan bantuan untuk menyangganya untuk tetap berdiri kokoh…Oh TUHAN, dia benar-benar memohon kekuatan dan kasih sayang-MU untuk tetap bertahan…dan mempertahankan ‘dia’…menjaganya…yang sekarang mulai bergeming, tersadar…akan ‘indahnya’ dunia yang fana ini…
“Ahh, bagaimana cara menganalisis model data seperti ini ya”, desah dia pelan memandangi berkas yang dibawanya sejak tadi. Ekonometrik…ya Ekonometrik.


dia melirik jam di dinding…hmm, saatnya istirahat sebentar…mengistirahatkan badan, otak, dan hati…ngantuukk…tiba-tiba seorang Prof. menyela masuk ke ruangan…membuat dia kaget dan terbangun dari rasa kantuknya…sang Prof. kaget juga tapi lalu berlalu keluar kembali membawa berkas yang begitu banyak…huff, dia benar-benar kaget…kenapa apa yang sedang terfikirkan olehnya…terkadang langsung terpantulkan oleh alam…apakah itu berarti TUHAN juga mengetahui apa yang difikirkannya…dirasakannya…yang coba disembunyikannya? dia sudah tahu bahwa TUHAN pasti tahu…tapi mengetahui bahwa TUHAN tahu membuatnya tersipu malu… Malu karena telah membuatnya sering termenung…
Malu karena telah membuatnya sering teringat hal yang telah mengusik ‘dia’ dari mengingat TUHAN yang selalu ada disampingnya…”Ohh, apa yang telah kulakukan? Maafkan aku yaa Rabbi”, pintanya. Kembali ditatapnya pintu yang telah tertutup kembali. Jejak yang ditinggalkan oleh Prof. Ya…Prof. itu adalah gurunya…mengingatkannya akan pelajaran yang diperolehnya di kelas. Ha ha ha…dia memang lamban mengerti…tapi dia sangat menyukai kelas itu…dan tak habis fikir juga kenapa dia diberikan nilai bagus oleh Prof. itu juga…padahal dia merasa begitu biasa…Hmm…


Walau pelajarannya sulit dan menegangkan, namun Prof. itu telah banyak sekali memberi pelajaran berharga…baik yang berkaitan di kelas…maupun pelajaran hidup…termasuk kasih sayang…dan cinta. Cinta??…hmmmm, dia mulai meraba-raba…sebenarnya apa itu CINTA? Kenapa ‘dia’ ada? Pentingkah ‘dia’? Si ‘dia’ yang jauh di dalam sana berbisik pelan mengantuk…”aku ada…sadarkah kau aku ada?”. dia tahu bahwa ‘dia’ ada…
tapi dia tidak mau mengganggu dan membangunkannya…sampai saatnya tiba ‘dia’ untuk bangun dan melihat ‘mentari pagi’ yang sebenarnya…kapankah itu tiba?? Hanya Allah yang tahu…dan dia telah ‘dibisikkan’ oleh NYA bahwa saat itu akan tiba…saat dia tidak meminta dan menyadarinya…saat dia sedang bergelut ‘mempertahankan’ dirinya…TUHAN akan mengirimnya…sebagai pengobat hati…pelipur lara…ohh, dia sangat senang…….jalan TUHAN memang indah…dan akan semakin indah saat tiba waktunya…

Dia kembali melirik jam…ahh, sudah jam 5 sore…dia masih malas untuk pulang…masih banyak yang harus dikerjakan…tapi badannya sudah berteriak malas…Dipandangi Handphone yang tergeletak di samping meja…yang sengaja di-silent-nya sejak tadi. “Apa ya yang sedang dilakukan-nya-?”, fikirnya. dia mulai berfikir, pentingkah untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan-nya-? Ahh, ada-ada saja…”Tapi aku ingin memikirkan-nya-..”, pinta sang otak. Sang hati mengangguk mengiyakan… Wah, tumben dia berfikir sang otak dan sang hati yang dimilikinya sepakat untuk mengerjakan sesuatu…biasanya selalu saja ada yang lebih dimenangkan…hmmm. “Sebenarnya, apa yang sedang terjadi pada kalian?”…

Sang hati mulai gundah…dia berfikir, sudah saatnya menenteramkannya…membelainya…agar tidak gelisah terus bertanya-tanya… dia mulai membuka Tafsir Al Qur’an…membacanya…menghayatinya…ohh indahnya ayat-ayat ini…begitu menenteramkan kalbu…mengobati jiwa… Selesai membaca beberapa ayat, dia kembali termenung lagi… “Yaa Rahim, hamba-MU ini masih tidak mengerti…hati ini selalu gelisah…tunjukkan-lah wahai Sang Maha Penyayang pengertian ‘dia’ yang mudah hamba fahami…sehingga hamba dapat menjaga dan mengatasi persoalan perasaan ini?”, doa-nya dalam hati. Ahh, pusing…”Kemana lagi akan kucari pemahaman ini?”, desahnya…

Sejenak diliriknya laptop yang masih menyala… dia mulai berfikir, maukah TUHAN memberikan sedikit penerangan kali ini? dia mulai membuka Al Qur’an Digital…menuliskan “ayat-ayat yang berkaitan dengan Cinta” pada kolom SEARCH. Sepersekian detik muncullah beberapa ayat. dia membacanya…menelaahnya…ayat-ayat itu memang indah…baik isi, pelajaran yang disampaikan, maupun lafalnya. Hmmm….ayat-ayat Cinta…sejenak dia tertawa…menertawakan dirinya sendiri…”…semuanya ada dalam Al Qur’an dan Hadist”, terngiang kata ayahanda pada dia dulu. “Jika kau bingung, maka bukalah Al Qur’an…maka Allah akan membantumu memahami masalahmu…”, begitu kata ayahanda. “Yaa Rahim, maafkanlah hamba-MU ini yang terbutakan oleh dunia… Tuntunlah aku dalam pemahamanku akan hidup ini, yaa Rahim”, pintanya dalam hati. Kembali ditekuninya laptop, menghidupkan internet dan mulai mencari apakah ada artikel atau tulisan yang terkait dengan ayat-ayat Al Qur’an tersebut. Beberapa tulisan memberikan pemahaman yang sangat bagus. Lalu kembali dia melakukan SEARCHING kembali. Hmm…ada satu tulisan yang menarik perhatiannya.


“8 Pengertian Cinta Dalam Al Qur’an”. Hmm…sejenak dibaca
Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu
mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an
katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya
(man ahabba syai’an fa huwa `abduhu).
Kata Nabi juga, ciri dari cinta
sejati ada tiga :

(1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai
dibanding dengan yang lain,

(2) lebih suka berkumpul dengan yang
dicintai dibanding dengan yang lain, dan

(3) lebih suka mengikuti
kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri.
Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka
berbicara dengan Alloh Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka
bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti
perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.

Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian, berikut ini penjelasannya:

1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan
“nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu
berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia
ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut,
siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis
rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding
terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang
kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi
kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya.
Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian
darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari
itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham ,
yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri,
yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata
rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana
psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.
Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah
dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya
menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta
mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia
akhirat.

3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara,
sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung
kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut
dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada
yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang
lama.

4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil
dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad
syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir
tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf
ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir
kepada bujangnya, Yusuf.

  5. Cinta ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan
norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak
tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an
menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah
menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus
hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku
penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika
mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan
Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja),
sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan
bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al
jahilin (Q/12:33)

7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari
hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5
dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan
tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur
dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika
wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya
memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu.
Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa
Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada
sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang
apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il
tihab naruha fi qalb al muhibbi

8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik
kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang
menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada
pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la
yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

Salam Cinta,


Tidak ada komentar:

Posting Komentar