Tujuan hidup adalah sebuah ketetapan yang mendasari semua rencana dan kerja kita, dan yang menjadi penjaga arah perjalanan.
[Menafsirkan Al Qur'an Tanpa Ilmu]
Pertanyaan:
Bolehkah seseorang menafsirkan Al Qur’an tanpa ilmu dan tanpa merujuk pada keterangan para ulama? Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan.
Syaikh Muhammad Al Imam hafizhahullah menjawab:
Seseorang tidak boleh berbicara tentang hal yang tidak ia ketahui. Dan tidak boleh juga berbicara tentang ilmu agama padahal ia tidak memiliki ilmu. Ini merupakan kejahatan yang besar, dan berbahaya bagi orang yang melakukannya. Ini juga merupakan kejahatan terhadap kalam Allah, dan bahaya yang besar bagi orang yang melakukannya.
Maka, hendaknya orang yang suka bermudah-mudah ini bertaqwa kepada Allah, dan jauhi berbicara mengenai kalamullah padahal ia tidak memiliki ilmu yang mencukupi yang membuat ia bisa menafsirkan dengan benar. Karena perbuatan ini merupakan penyimpangan dan kejahatan terhadap Allah dan terhadap agama Allah dan juga terhadap Rasul-Nya. Dan ini juga merupakan keburukan yang besar, sebagaimana sudah saya katakan.
Maka takutlah kepada Allah dengan tidak melakukan hal seperti ini, yang menyebabkan sebagian orang yang mengikutinya melakukan kebid’ahan, berdalil dengan ayat ini dan ayat itu, ayat ini menyuruh perbuatan ini dan itu, padahal bukan demikian maksud ayat tersebut dan dia bukan orang yang ahli dalam menafsirkan ayat Qur’an.
Ada riwayat shahih dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, beliau melewati seorang lelaki yang sedang mengajarkan orang-orang Al Qur’an. Beliau berkata:
أتعرف الناسخ والمنسوخ ؟ قال : لا ، قال : هلكت وأهلكت
“Apakah engkau sudah paham nasikh dan mansukh? Lelaki tadi berkata: ‘Saya belum paham’. Ali berkata: ‘Sungguh engkau ini binasa dan membuat orang lain binasa’“
Sumber: http://kangaswad.wordpress.com/2012/12/01/menafsirkan-quran-tanpa-ilmu
***
Artikel ini spesial untuk seorang da'i dadakan (Mentallist jadi ustadz)
Satu dalil saja tidak bisa ditunjukkan kalau Abu Baker, Umar, Utsman dan Ali merayakan Kelahiran Nabi.
Imam Malik pernah berkata,
ولا يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها
"Umat saat ini tidak bisa menjadi baik melainkan dengan mengikuti baiknya generasi Islam yang pertama."
Lantas atas petunjuk siapa jika ada yang merayakan? Padahal sebaik-baik generasi adalah generasi sahabat.
Mau Lakukan Ibadah Harus Butuh Dalil
Ulama Syafi’i memiliki kaedah,
اَلْأَصْلَ فِي اَلْعِبَادَةِ اَلتَّوَقُّف
“Hukum asal ibadah adalah tawaqquf (diam sampai datang dalil)”
Perkataan di atas disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (5: 43). Ibnu Hajar adalah di antara ulama besar Syafi’i yang jadi rujukan. Perkataan Ibnu Hajar tersebut menunjukkan bahwa jika tidak ada dalil, maka suatu amalan tidak boleh dilakukan. Itu artinya asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkan. Di tempat lain, Ibnu Hajar rahimahullah juga berkata,
أَنَّ التَّقْرِير فِي الْعِبَادَة إِنَّمَا يُؤْخَذ عَنْ تَوْقِيف
“Penetapan ibadah diambil dari tawqif (adanya dalil)” (Fathul Bari, 2: 80).
Ibnu Daqiq Al ‘Ied, salah seorang ulama besar Syafi’i juga berkata,
لِأَنَّ الْغَالِبَ عَلَى الْعِبَادَاتِ التَّعَبُّدُ ، وَمَأْخَذُهَا التَّوْقِيفُ
“Umumnya ibadah adalah ta’abbud (beribadah pada Allah). Dan patokannya adalah dengan melihat dalil”. Kaedah ini beliau sebutkan dalam kitab Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdatil Ahkam.
via ustadz Abduh Tuasikal
BID'AH PERAYAAN MAULID DIBUBARKAN OLEH ULAMA BESAR DAN PENDIRI NU, KH HASYIM ASY'ARI (KAKEKNYA GUSDUR)
Dalam kitabnya Al-Tasybihat al-Wajibat Li man Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarat, yim asy'ari mengisahkan pengalamannya.
Tepatnya pada Senin 25 Rabi’ul Awwal 1355 H, Kyai Hayim berjumpa dengan orang-orang yang merayakan Maulid Nabi. Mereka berkumpul membaca Al-Qur’an, dan sirah Nabi.
Pada perayaan itu disertai aktivitas dan ritual-ritual yang tidak sesuai syari’at. Misalnya, ikhtilath (laki-laki dan perempuan bercampur dalam satu tempat tanpa hijab), menabuh alat-alat musik, tarian, tertawa-tawa, dan permainanan yang tidak bermanfaat.
Kenyataan ini membuat Kyai Hasyim geram. Kyai Hasyim pun melarang dan membubarkan ritual tersebut tanpa ragu ragu.
--------
Sumber: Hasyim Asy’ari, Al-Tasybihat al-Wajibat Li man Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarat,(Jombang: Maktabah al-Turast al-Islamiy,tanpa tahun), hal. 9. dari https://www.facebook.com/pages/Sifat-Sholat-Nabi/89648006393?ref=stream
Pada suatu saat di sebuah desa
, seorang ibu menunggu kedatangan putrinya
yang bekerja. Ibu itu adalah seorang wanita yang telah kehilangan
suaminya yang meninggal karena sakit bertahun-tahun lalu. Pendapatan
keluarga hanya didapat dari anak perempuannya yang bekerja di kota dan
pulang setiap akhir pekan. Sekalipun putrinya bekerja, kehidupan ekonomi
mereka tak kunjung membaik.
Saat malam akan menjelang, putrinya tiba di rumah dengan wajah yang sangat gusar. Melihat wajah yang tidak biasa itu, sang ibu menanyakan kepada putrinya.
"Anakku, ada apa? Mengapa wajahmu tampak sedih dan gusar?"
Sang anak menghela nafas panjang lalu berkata, "Ibu, aku lelah sekali. Aku tidak habis pikir mengapa hidupku sangat malang. Aku selalu bekerja keras, selalu menunjukkan apa yang aku bisa, aku bahkan selalu mengorbankan banyak hal untuk pekerjaanku. Tetapi tidak ada yang memuji pekerjaanku, mereka bahkan rering mengejek dan mengatakan aku tidak akan bisa mencapai hasil terbaik dalam pekerjaanku." Dua tetes air mata mengalir di pipi sang anak.
Sang ibu mengusap rambut sang anak dengan lembut, "Anakku, jangan pernah mengharap orang lain untuk selalu memuji apa yang sedang engkau kerjakan."
"Maksud ibu?" tanya sang anak tak mengerti.
"Coba kamu lihat bunga sepatu yang tumbuh di halaman rumah kita. Dulu, saat kamu masih kecil, tidak ada yang menanam pohon bunga sepatu disana, dia tiba-tiba tumbuh dan semua orang membiarkannya tumbuh tanpa memberi pupuk atau menyiram." ujar si ibu.
Sang anak hanya mendengarkan.
"Tidak ada yang peduli pada bunga sepatu itu, hingga pada saat dia berbunga, semua orang akan mengagumi betapa indah kelopak-kelopaknya. Bahkan tidak sedikit yang berebut memetiknya." lanjut si ibu sambil tersenyum, "Anakku, orang lain mungkin tidak peduli dengan apa yang kamu kerjakan sekarang, tetapi jangan menyerah dan selalu berikan yang terbaik, seperti yang dilakukan bunga sepatu. Dia selalu bersabar dan memberikan yang terbaik meskipun orang-orang tidak peduli padanya."
Sang anak langsung memeluk ibunya sambil menangis karena telah merasa keliru dan menyesal telah menangisi kesabaran dan kerja keras yang sudah dia lakukan. "Aku berjanji akan memberikan yang terbaik." ujarnya.
***
Sahabat CERIA, sekalipun banyak hal yang menjadi penghalang dalam pencapaian usaha kita, kita tidak boleh menyerah begitu saja. Selalu berikan yang terbaik, maka suatu saat, akan banyak orang yang melihat betapa indah hasil kerja keras kita, seperti kelopak bunga sepatu yang cantik. Kelopak yang mekar sekalipun tidak ada yang peduli dengannya.
Salam MOTIVASI CERIA..!
ceritaharian/facebook
Saat malam akan menjelang, putrinya tiba di rumah dengan wajah yang sangat gusar. Melihat wajah yang tidak biasa itu, sang ibu menanyakan kepada putrinya.
"Anakku, ada apa? Mengapa wajahmu tampak sedih dan gusar?"
Sang anak menghela nafas panjang lalu berkata, "Ibu, aku lelah sekali. Aku tidak habis pikir mengapa hidupku sangat malang. Aku selalu bekerja keras, selalu menunjukkan apa yang aku bisa, aku bahkan selalu mengorbankan banyak hal untuk pekerjaanku. Tetapi tidak ada yang memuji pekerjaanku, mereka bahkan rering mengejek dan mengatakan aku tidak akan bisa mencapai hasil terbaik dalam pekerjaanku." Dua tetes air mata mengalir di pipi sang anak.
Sang ibu mengusap rambut sang anak dengan lembut, "Anakku, jangan pernah mengharap orang lain untuk selalu memuji apa yang sedang engkau kerjakan."
"Maksud ibu?" tanya sang anak tak mengerti.
"Coba kamu lihat bunga sepatu yang tumbuh di halaman rumah kita. Dulu, saat kamu masih kecil, tidak ada yang menanam pohon bunga sepatu disana, dia tiba-tiba tumbuh dan semua orang membiarkannya tumbuh tanpa memberi pupuk atau menyiram." ujar si ibu.
Sang anak hanya mendengarkan.
"Tidak ada yang peduli pada bunga sepatu itu, hingga pada saat dia berbunga, semua orang akan mengagumi betapa indah kelopak-kelopaknya. Bahkan tidak sedikit yang berebut memetiknya." lanjut si ibu sambil tersenyum, "Anakku, orang lain mungkin tidak peduli dengan apa yang kamu kerjakan sekarang, tetapi jangan menyerah dan selalu berikan yang terbaik, seperti yang dilakukan bunga sepatu. Dia selalu bersabar dan memberikan yang terbaik meskipun orang-orang tidak peduli padanya."
Sang anak langsung memeluk ibunya sambil menangis karena telah merasa keliru dan menyesal telah menangisi kesabaran dan kerja keras yang sudah dia lakukan. "Aku berjanji akan memberikan yang terbaik." ujarnya.
***
Sahabat CERIA, sekalipun banyak hal yang menjadi penghalang dalam pencapaian usaha kita, kita tidak boleh menyerah begitu saja. Selalu berikan yang terbaik, maka suatu saat, akan banyak orang yang melihat betapa indah hasil kerja keras kita, seperti kelopak bunga sepatu yang cantik. Kelopak yang mekar sekalipun tidak ada yang peduli dengannya.
Salam MOTIVASI CERIA..!
ceritaharian/facebook
Langganan:
Postingan (Atom)

