Tujuan hidup adalah sebuah ketetapan yang mendasari semua rencana dan kerja kita, dan yang menjadi penjaga arah perjalanan.
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Membunyikan Sholawat Sebelum Adzan
Ada sebuah kebiasaan di Indonesia yang sudah lama mengakar di masyarakat, yaitu kebiasaan membunyikan kaset sholawat atau tarhim di masjid-masjid sebelum tukang adzan mengumandangkan adzannya.
Di sebagian tempat lagi, ada yang langsung ber-sholawat dengan lisannya melalui loud speaker dengan suara keras. Suara mereka didengarkan oleh orang-orang yang berada di kampung dan tempat sekitar. Alasannya sih untuk mengingatkan dekatnya waktu sholat.
Tapi apakah hal ini dibenarkan dalam syariat dan memiliki dasar sehingga kita menyatakannya boleh atau sunnah?
Pertanyaan semisal ini telah dijawab oleh para ulama dalam Lembaga Pemberi Fatwa (Al-Lajnah Ad-Da’imah) di Timur Tengah, yang kala itu memberikan jawaban,
“Bersholawat dan bersalam kepada Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- sebelum adzan dan juga mengeraskannya usai adzan bersama (bersambung) dengan adzan termasuk bid’ah yang diada-ada dalam agama. Sungguh telah tsabit (nyata) dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَد
“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia (hal yang diada-ada itu) adalah tertolak”. [HR. Al-Bukhoriy (no. 2697) dan Muslim (no. 1718) (17)]
Di dalam sebuah riwayat,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدّ
“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tak ada padanya urusan (agama) kami, maka ia (amalan) itu tertolak”. [HR. Muslim (no. 1718) (18)]
Wabillahit taufiq wa shollallahu ala Nabiyyina Muhammadin wa aalihi wa shohbihi wa sallam”.
[Sumber Fatwa: Fataawa Al-Lajnah Ad-Da'imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Iftaa' (2/501/no. 9696)].
KERUSAKAN-KERUSAKAN YANG DITIMBULKAN OLEH BID'AH
Banyak kerusakan yang ditimbulkan oleh bid’ah, diantaranya adalah :
1. Bid’ah memberikan kesulitan kepada hamba, karena telah membebani
manusia dengan sesuatu yang tidak pernah diperintahkan oleh Allah dan
Rosul-Nya.
2. Bid’ah menyebabkan manusia keluar dari ketaatan kepada Rasul. Karena Allah Ta’ala berfirman :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ.
“Katakanlah, Jika kamu mencintai Allah ikutilah aku (Muhammad)
niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS Ali
Imran : 31).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata,” Ayat yang mulia
ini adalah sebagai hakim bagi orang mengaku mencintai Allah, sementara
ia tidak di atas tata cara (ibadah) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam, dimana ia dusta dalam klaimnya tersebut sampai mengikuti
syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada seluruh
perkataan, perbuatan dan keadaan beliau, sebagaimana telah ada dalam
kitab Ash Shahih Nabi bersabda :
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
“Barang siapa yang beramal dengan suatu amal yang tidak
diperintahkan oleh kami maka amal tersebut tertolak.” (HR Muslim).[1]
3. Bid’ah meniadakan kesempurnaan syahadat Muhammad Rasulullah.
Karena tujuan di utusnya Rosul adalah dalam rangka menjelaskan
kepada manusia tentang ibadah yang diridlai oleh Allah, karena ibadah
adalah hak Allah dan tentunya Allah ingin diibadahi sesuai dengan apa
yang Dia cintai dan ridlai, bukan sesuai selera manusia. Dan yang Allah
cintai dan ridlai adalah yang Allah wahyukan kepaa Rosul-nya.
4. Bid’ah adalah tikaman terhadap kesempurnaan islam.
Karena orang yang berbuat bid’ah konskwensinya adalah menyatakan
dengan perbuatannya atau lisannya bahwa syari’at islam belum sempurna
sehingga butuh penambahan, kalaulah ia meyakini islam telah sempurna di
seluruh lininya tentu ia tidak akan berbuat bid’ah.[2]
5. Bid’ah adalah tikaman terhadap sifat amanah Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam.
Ibnul Majisyun berkata,” Aku mendengar imam Malik berkata,”Barang
siapa yang berbuat bid’ah di dalam islam yang ia anggap baik, ia telah
menganggap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhianati
risalah, karena Allah berfirman,”Pada hari ini telah Aku sempurnakan
agamamu.” Maka yang pada hari itu tidak termasuk agama, pada hari inipun
tidak termasuk agama.”[3]
6. Bid’ah melenyapkan sunah, karena
berapa banyak sunnah yang hilang dan digantikan oleh bid’ah, seperti
adzan awal subuh, salawat, dll.
Berkata Hassan bin ‘Athiyyah,”
Tidaklah suatu kaum berbuat bid’ah dalam agama mereka kecuali Allah akan
mencabut sunnah yang semisal.” (HR Ad Darimi).[4]
7. Bid’ah
penyebab utama terjadinya perpecahan umat. Karena pada zaman Rosulullah
dan sahabatnya belum terjadi bid’ah tapi ketika muncul orang-orang yang
mengikuti selain petunjuk mereka mulailah terjadi perpecahan.
8. Amalan pelaku bid’ah tertolak. (HR Muslim).
Allah menghalangi ahli bid’ah untuk bertaubat selama dia tidak
meninggalkan bid’ahnya. Sebagaimana sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam :
إِنَّ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ.
“Sesungguhnya Allah menghalangi taubat dari pelaku bid’ah sampai ia
meninggalkan bid’ahnya.” (HR Thabrany dan disahihkan oleh syeikh Al
Bani[5]).
9. Pelaku bid’ah akan menanggung dosa orang yang mengikutinya. Sebagaimana sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا
وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ
أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً
كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ
غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.
“Barangsiapa
mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan
memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya
setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa
mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan
memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya
tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR Muslim).[6]
10. Orang yang melindungi ahli bid’ah dilaknat oleh Allah. sebagaimana sabda Nabi :
لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا
“Semoga Allah melaknat orang yang melindungi orang yang mengada-ada (kebid’ahan)”.(HR Muslim).
11. Pelaku bid’ah akan semakin jauh dari Allah.
Al Hasan Al Bashry rahimahullah berkata :”pelaku bid’ah tidaklah ia
menambah ibadah (yang bid’ah) kecuali semakin jauh dari Allah “. (Ibnu
Baththah, Al Ibanah)
12. Pelaku bid’ah memposisikan dirinya pada
kedudukan yang menyerupai pembuat syari’at, karena yang berhak membuat
syari’at hanyalah Allah saja. Firman-Nya :
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوْا لَهُمْ مِّن الدِّيْنِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ.
“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu selain Allah yang menetapkan
aturan agama bagi mereka yang tidak diidzinkan oleh Allah.”
13. Bid’ah lebih buruk dari maksiat.
Syaikhul islam ibnu Taimiyah berkata,”Sesungguhnya ahli bid’ah
lebih buruk dari ahli maksiat yang mengikuti syahwatnya berdasarkan
sunnah dan ijma’ ulama… kemudian beliau menyebutkannya.[7]
14. Bid’ah lebih disukai iblis dari maksiat.
Ibnul Ja’ad meriwayatkan dalam musnadnya (no 1885) dari Sufyan Ats
Tsauri berkata,”Bid’ah lebih disukai oleh iblis dari pada maksiat.”
Karena jika engkau bertanya kepada pencuri misalnya,”Apakah engkau
meyakini mencuri itu maksiat ? ia akan menjawab “ya”. Sedangkan ahli
bid’ah menganggap baik perbuatannya sehingga sulit diharapkan taubatnya.
Dan lain-lain.
[1] Ibnu Katsir, Tafsir ibnu katsir 2/24 tahqiq Hani Al haaj.
[2] Ilmu ushul bida’ hal 20.
[3] Al I’tisham 1/49.
[4] Sunan Ad Darimi 1/58 no 98 tahqiq Fawwaz Ahmad dan sanadnya shahih.
[5] Dalam shahih targhib wa tarhib no 54.
[6] Muslim 2/705 no 1017.
[7] Majmu’ fatawa ibnu Taimiyah 10/9.
BID'AH PERAYAAN MAULID DIBUBARKAN OLEH ULAMA BESAR DAN PENDIRI NU, KH HASYIM ASY'ARI (KAKEKNYA GUSDUR)
Dalam kitabnya Al-Tasybihat al-Wajibat Li man Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarat, yim asy'ari mengisahkan pengalamannya.
Tepatnya pada Senin 25 Rabi’ul Awwal 1355 H, Kyai Hayim berjumpa dengan orang-orang yang merayakan Maulid Nabi. Mereka berkumpul membaca Al-Qur’an, dan sirah Nabi.
Pada perayaan itu disertai aktivitas dan ritual-ritual yang tidak sesuai syari’at. Misalnya, ikhtilath (laki-laki dan perempuan bercampur dalam satu tempat tanpa hijab), menabuh alat-alat musik, tarian, tertawa-tawa, dan permainanan yang tidak bermanfaat.
Kenyataan ini membuat Kyai Hasyim geram. Kyai Hasyim pun melarang dan membubarkan ritual tersebut tanpa ragu ragu.
--------
Sumber: Hasyim Asy’ari, Al-Tasybihat al-Wajibat Li man Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarat,(Jombang: Maktabah al-Turast al-Islamiy,tanpa tahun), hal. 9. dari https://www.facebook.com/pages/Sifat-Sholat-Nabi/89648006393?ref=stream
36 KEINDAHAN MANHAJ SALAF
1. Janji Allah bagi para pengikut setia Salafus Shalih
Allah ta’ala berfirman,
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ
وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا
عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ
خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama -berjasa kepada Islam- dari
kalangan Muhajirin dan Anshar, beserta orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha
kepada-Nya. Allah mempersiapkan untuk mereka surga-surga yang di
bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di sana selama-lamanya.
Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. at-Taubah : 100)
2. Meyakini bahwa petunjuk merupakan karunia dari Allah
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ هُوَ ابْنُ حَازِمٍ
عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ رَأَيْتُ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ يَنْقُلُ
مَعَنَا التُّرَابَ وَهُوَ يَقُولُ
وَاللَّهِ لَوْلَا اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَلَا صُمْنَا وَلَا صَلَّيْنَا
فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا وَثَبِّتْ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا
وَالْمُشْرِكُونَ قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا إِذَا أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا
Abu an-Nu’man menuturkan kepada kami. Dia berkata; Jarir yaitu Ibnu
Hazim mengabarkan kepada kami dari Abu Ishaq dari al-Barra’ bin Azib
-radhiyallahu’anhu, dia berkata; Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam pada saat perang Khandaq mengangkut tanah bersama kami sambil
mengatakan,
Demi Allah, kalau bukan karena Allah maka kami tidak akan mendapat petunjuk
Kami tidak berpuasa, tidak juga sholat
Maka turunkanlah ketenangan kepada kami
Kokohkan pijakan kaki tatkala musuh menyerang kami
Orang-orang musyrik sungguh telah mengkhianati kami
Jika mereka menginginkan fitnah, tentu kami enggan untuk menuruti
(HR. Bukhari dalam Kitab al-Qadar, bab Wa maa kunnaa linahtadiya aula an hadaanallah)
3. Menjunjung tinggi ilmu
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ
يُونُسَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ قَالَ حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ خَطِيبًا يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ
فِي الدِّينِ وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي وَلَنْ تَزَالَ
هَذِهِ الْأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ
خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ
Sa’id bin Ufair
menuturkan kepada kami. Dia berkata; Ibnu Wahb menuturkan kepada kami
dari Yunus dari Ibnu Syihab, dia berkata; Humaid bin Abdurrahman
mengatakan; Aku mendengar ketika Mu’awiyah berceramah dia mengatakan;
Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa
yang dikehendaki baik oleh Allah maka akan dipahamkan dalam hal agama.
Sesungguhnya aku hanyalah orang yang membagi-bagi sedangkan Allah lah
Yang Maha pemberi. Umat ini akan senantiasa tegak di atas ketetapan
Allah, tidaklah membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka
hingga datang ketetapan Allah.” (HR. Bukhari di dalam Kitab al-’Ilm, bab
Man yuridillahu bihi khairan yufaqqihhu fid dien).
4. Tidak menyembunyikan ilmu kecuali ada maslahat yang lebih kuat
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي
مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
إِنَّ النَّاسَ يَقُولُونَ أَكْثَرَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَلَوْلَا آيَتَانِ
فِي كِتَابِ اللَّهِ مَا حَدَّثْتُ حَدِيثًا ثُمَّ يَتْلُو { إِنَّ
الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنْ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى
إِلَى قَوْلِهِ الرَّحِيمُ } إِنَّ إِخْوَانَنَا مِنْ الْمُهَاجِرِينَ
كَانَ يَشْغَلُهُمْ الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ وَإِنَّ إِخْوَانَنَا مِنْ
الْأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمْ الْعَمَلُ فِي أَمْوَالِهِمْ وَإِنَّ
أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ يَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بِشِبَعِ بَطْنِهِ وَيَحْضُرُ مَا لَا يَحْضُرُونَ وَيَحْفَظُ
مَا لَا يَحْفَظُونَ
Abdul Aziz bin Abdullah menuturkan kepada
kami. Dia berkata; Malik menuturkan kepadaku dari Ibnu Syihab dari
al-A’raj dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- dia berkata,
“Sesungguhnya orang-orang mengatakan bahwa Abu Hurairah banyak sekali
meriwayatkan hadits. Kalau bukan karena dua buah ayat di dalam
Kitabullah maka niscaya aku tidak akan menyampaikan satu hadits pun.”
Lalu beliau membaca ayat (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang
menyembunyikan apa yang Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan
petunjuk… sampai firman-Nya; Yang Maha penyayang.” “Sesungguhnya
saudara-saudara kami dari kaum Muhajirin sibuk dengan berdagang di
pasar-pasar dan saudara-saudara kami dari kaum Anshar sibuk dengan
pekerjaan mereka dalam mengurus harta-harta mereka, sedangkan Abu
Hurairah selalu menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dengan perut yang merasa kenyang, dia hadir ketika mereka tidak hadir,
dan dia hafal ketika mereka tidak menghafalnya.” (HR. Bukhari dalam
Kitab al-’Ilm, bab Hifzhul ilmi)
5. Memperhatikan kemaslahatan kaum muslimin
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي
قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ ذُكِرَ لِي أَنَّ النَّبِيَّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ مَنْ
لَقِيَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قَالَ أَلَا
أُبَشِّرُ النَّاسَ قَالَ لَا إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَتَّكِلُوا
Musaddad menuturkan kepada kami. Dia berkata; Mu’tamir menuturkan kepada
kami. Dia berkata; Aku mendengar bapakku berkata; Aku mendengar Anas
bin Malik -radhiyallahu’anhu- mengatakan; disebutkan kepadaku bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wa allam berkata kepada Mu’adz bin Jabal,
“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dan tidak mempersekutukan-Nya
dengan apa pun maka dia pasti akan masuk ke dalam surga.” Maka Mu’adz
berkata, “Apakah tidak sebaiknya kabar gembira ini kusebarkan kepada
orang-orang?”. Maka Nabi menjawab, “Jangan, aku khawatir nanti mereka
akan menggantungkan angan-angan dan meninggalkan amal.” (HR. Bukhari
dalam Kitab al-’Ilm, bab Man khassha bil ‘ilmi qauman duna qaumin
karahiyata anlaa yafhamuu).
6. Bersemangat untuk mempelajari hadits
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي
سُلَيْمَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي
سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ قِيلَ يَا
رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ ظَنَنْتُ
يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ
أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ أَسْعَدُ
النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ
Abdul Aziz bin
Abdullah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Sulaiman menuturkan
kepadaku dari Amr bin Abi Amr dari Sa’id bin Abi Sa’id al-Maqburi dari
Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- bahwa dia mengatakan; suatu ketika ada
yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia
dengan syafa’atmu pada hari kiamat kelak?”. Maka Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh aku telah mengira wahai Abu
Hurairah, bahwa tidak ada yang akan menanyakan mengenai hadits ini
seorang pun yang lebih dahulu daripada engkau, sebab aku melihat
besarnya semangatmu untuk mempelajari hadits. Orang yang paling
berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat kelak adalah orang yang
mengatakan la ilaha illallah ikhlas dari dalam hati atau jiwanya.” (HR.
Bukhari dalam Kitab al-’Ilm, bab al-Hirsh ‘alal hadits).
7. Berhati-hati dalam meriwayatkan hadits Nabi
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ قَالَ
أَخْبَرَنِي مَنْصُورٌ قَالَ سَمِعْتُ رِبْعِيَّ بْنَ حِرَاشٍ يَقُولُ
سَمِعْتُ عَلِيًّا يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ
فَلْيَلِجْ النَّارَ
Ali bin al-Ja’d menuturkan kepada kami. Dia
berkata; Syu’bah mengabarkan kepada kami. Dia berkata; Manshur
mengabarkan kepadaku, dia berkata Aku mendengar Rib’i bin Hirasy
mengatakan; Aku mendengar Ali -radhiyallahu’anhu- mengatakan; Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian berdusta atas
namaku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku hendaklah dia masuk ke
dalam neraka.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-’Ilm, bab Itsmu man kadzdzaba
‘alan Nabiyyi shallallahu ‘alaihi wa sallam).
8. Berpegang teguh dengan hadits tatkala berkecamuknya fitnah
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ أَيَّامَ
الْجَمَلِ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَنَّ فَارِسًا مَلَّكُوا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ
وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً
Utsman bin al-Haitsam menuturkan
kepada kami. Dia berkata; Auf menuturkan kepada kami dari al-Hasan dari
Abu Bakrah -radhiyallahu’anhu-, dia mengatakan; Sungguh Allah telah
memberikan manfaat kepadaku dengan suatu kalimat di saat-saat terjadinya
perang Jamal, yaitu ucapan yang terlontar ketika sampai kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam berita bahwa bangsa Persia mengangkat
putri Kisra sebagai raja mereka, maka beliau bersabda, “Tidak akan
pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka di bawah
pimpinan perempuan.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Fitan, bab al-Fitnatu
alati tamuju kamaujil bahri)
9. Menerima hadits ahad dalam hal hukum maupun aqidah
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ بَيْنَا النَّاسُ
بِقُبَاءٍ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ إِذْ جَاءَهُمْ آتٍ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أُنْزِلَ عَلَيْهِ
اللَّيْلَةَ قُرْآنٌ وَقَدْ أُمِرَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْكَعْبَةَ
فَاسْتَقْبِلُوهَا وَكَانَتْ وُجُوهُهُمْ إِلَى الشَّأْمِ فَاسْتَدَارُوا
إِلَى الْكَعْبَةِ
Isma’il menuturkan kepada kami. Dia berkata;
Malik menuturkan kepadaku dari Abdullah bin Dinar dari Abdullah bin Umar
-radhiyallahu’anhuma- dia berkata; Ketika orang-orang berada di Quba’
sedang melakukan sholat Subuh tiba-tiba ada seorang lelaki yang datang
dan mengatakan, “Sesungguhnya telah turun ayat al-Qur’an kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semalam dan beliau
diperintahkan untuk sholat menghadap ke Ka’bah, maka menghadaplah kalian
ke arah sana.” Ketika itu wajah mereka menghadap ke Syam -Baitul
Maqdis- maka kemudian mereka pun berputar menuju arah Ka’bah (HR.
Bukhari dalam Kitab Akhbar al-Ahad, bab Maa jaa’a fi ijaazati khabaril
wahid)
10. Memprioritaskan dakwah tauhid
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ وَإِسْحَقُ
بْنُ إِبْرَاهِيمَ جَمِيعًا عَنْ وَكِيعٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا
وَكِيعٌ عَنْ زَكَرِيَّاءَ بْنِ إِسْحَقَ قَالَ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ صَيْفِيٍّ عَنْ أَبِي مَعْبَدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رُبَّمَا قَالَ وَكِيعٌ عَنْ
ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ مُعَاذًا قَالَ بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ
الْكِتَابِ فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ
أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ
وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ
افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ
فِي فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ
أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا
وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
Abu Bakr bin Abi Syaibah, Abu Kuraib,
dan Ishaq bin Ibrahim menuturkan kepada kami, semuanya dari Waki’. Abu
Bakar mengatakan; Waki’ menuturkan kepada kami dari Zakariya bin Ishaq,
dia berkata Yahya bin Abdullah bin Shaifi menuturkan kepadaku dari Abu
Ma’bad dari Ibnu ‘Abbas dari Mu’adz bin Jabal. Abu Bakar -perawi hadits-
terkadang mengatakan; Waki’ mengatakan dari Ibnu Abbas bahwa Mu’adz
berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku, beliau
bersabda, “Sesungguhnya kamu akan menemui suatu kaum dari kalangan ahli
kitab, maka ajaklah mereka kepada syahadat la ilaha illallah dan untuk
mempersaksikan bahwa aku adalah utusan Allah. Kemudian apabila mereka
telah mematuhinya maka ajarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan
kepada mereka lima kali sholat wajib dalam setiap sehari semalam.
Kemudian apabila mereka pun sudah mematuhinya maka ajarkanlah kepada
mereka bahwa Allah juga mewajibkan kepada mereka sedekah/zakat yang
diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk dibagikan kepada
orang-orang miskin di antara mereka. Kemudian apabila mereka
mematuhinya, maka hati-hatilah kamu agar tidak mengambil harta-harta
mereka yang paling berharga, dan jagalah dirimu dari doanya orang yang
terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara dirinya
dengan Allah.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman).
11. Menjauhi syirik dan kezaliman
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Sahihnya :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ
بْنُ إِدْرِيسَ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ
إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ {
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ } شَقَّ
ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَقَالُوا أَيُّنَا لَا يَظْلِمُ نَفْسَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ هُوَ كَمَا تَظُنُّونَ إِنَّمَا هُوَ
كَمَا قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ { يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ }
Abu Bakar bin Abi Abi
Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdullah bin Idris, Abu
Mu’awiyah dan Waki’ menuturkan kepada kami dari al-A’masy dari Ibrahim
dari Alqomah dari Abdullah, dia berkata; Ketika turun ayat (yang
artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka
dengan kezaliman.” Maka hal itu terasa berat bagi para sahabat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengadu, “Siapakah di
antara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?”. Maka Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maksudnya bukanlah seperti yang
kalian kira. Sesungguhnya yang dimaksud oleh ayat itu adalah
sebagaimana yang dikatakan oleh Luqman kepada anaknya, “Hai anakku,
janganlah kamu berbuat syirik kepada Allah, sesungguhnya syirik itu
adalah kezaliman yang sangat besar.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman)
12. Meyakini kafirnya Yahudi dan Nasrani
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Sahihnya :
حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ
قَالَ وَأَخْبَرَنِي عَمْرٌو أَنَّ أَبَا يُونُسَ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي
أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ
يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ
أَصْحَابِ النَّارِ
Yunus bin Abdul A’la menuturkan kepadaku.
Dia berkata; Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami. Dia berkata; Amr
mengabarkan kepadaku bahwa Abu Yunus menuturkan kepadanya dari Abu
Hurairah -radhiyallahu’anhu- dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bahwa beliau bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di
tangan-Nya, tidaklah ada seorang pun yang mendengar kenabianku dari umat
ini baik dari kalangan Yahudi ataupun Nasrani kemudian dia mati dalam
keadaan belum beriman dengan ajaran yang kubawa kecuali dia pasti
termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman)
13. Tidak mengikuti kesesatan ala Yahudi dan Nasrani
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ
الصَّنْعَانِيُّ مِنْ الْيَمَنِ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ
بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ
قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا
جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ
وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
Muhammad bin Abdul Aziz menuturkan
kepada kami. Dia berkata; Abu Umar as-Shon’ani dari Yaman menuturkan
kepada kami dari Zaid bin Aslam dari Atho’ bin Yasar dari Abu Sa’id
al-Khudri -radhiyallahu’anhu- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
beliau bersabda, “Sungguh kalian juga akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan
yang pernah dilakukan oleh orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi
sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai kalau mereka masuk ke
dalam lubang Dhobb -sejenis biawak- niscaya ada pula di antara kalian
yang akan mengikuti mereka.” Kami berkata, “Wahai Rasulullah, apakah
mereka itu Yahudi dan Nasrani?”. Beliau menjawab, “Kalau bukan, siapa
lagi?”. (HR. Bukhari dalam Kitab al-I’tishom bil Kitab wa Sunnah, bab
qaulin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam latatba’unna sanana man kaana
qoblakum)
14. Lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada selain keduanya
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ
أَبِي عُمَرَ وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ جَمِيعًا عَنْ الثَّقَفِيِّ قَالَ
ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ
أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ
الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا
سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ
يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ
مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
Ishaq bin
Ibrahim, Muhammad bin Yahya bin Abi Umar, dan Muhammad bin Basyar mereka
semua menuturkan kepada kami dari ats-Tsaqafi. Dia berkata; Ibnu Abi
Umar mengatakan; Abdul Wahhab menuturkan kepada kami dari Ayub dari Abu
Qilabah dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa yang memiliki ketiganya maka
dia akan merasakan manisnya iman. Orang yang lebih mencintai Allah dan
Rasul-Nya daripada selain keduanya. Dan dia tidak mencintai orang lain
melainkan ikhlas karena Allah semata. Dan dia juga membenci kembali
kepada kekafiran setelah Allah selamatkan dia darinya sebagaimana orang
yang merasa benci apabila hendak dilemparkan ke dalam kobaran api.” (HR.
Muslim dalam Kitab al-Iman)
15. Mencintai para sahabat Nabi
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ
بْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ جَبْرٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آيَةُ الْمُنَافِقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ
وَآيَةُ الْمُؤْمِنِ حُبُّ الْأَنْصَارِ
Muhammad bin al-Mutsanna
menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdurrahman bin Mahdi menuturkan
kepada kami dari Syu’bah dari Abdullah bin Abdullah bin Jabr, dia
berkata; Aku mendengar Anas -radhiyallahu’anhu- berkata; Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tanda orang munafik adalah
membenci kaum Anshar, dan tanda orang beriman adalah mencintai kaum
Anshar.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman)
16. Teguh di atas Sunnah meskipun harus menyelisihi orang banyak
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Sahihnya :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ جَمِيعًا عَنْ
مَرْوَانَ الْفَزَارِيِّ قَالَ ابْنُ عَبَّادٍ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ عَنْ
يَزِيدَ يَعْنِي ابْنَ كَيْسَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَأَ
الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى
لِلْغُرَبَاءِ
Muhammad bin ‘Abbad dan Ibnu Abi Umar menuturkan
kepada kami, semuanya dari Marwan al-Fazari, Ibnu Abbad mengatakan;
Marwan menuturkan kepada kami, dari Yazid yaitu Ibnu Kaisan dari Abu
Hazim dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- dia berkata; Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam itu datang dalam keadaan
asing dan ia akan kembali menjadi asing sebagaimana datangnya, maka
beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim dalam Kitab
al-Iman)
17. Memurnikan niat dalam beramal agar selalu ikhlas karena Allah
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ
عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ
عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ
امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ
فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ
لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا
هَاجَرَ إِلَيْهِ
Abdullah bin Maslamah menuturkan kepada kami.
Dia berkata; Malik mengabarkan kepada kami dari Yahya bin Sa’id dari
Muhammad bin Ibrahim dari Alqomah bin Waqqash dari Umar
-radhiyallahu’anhu- bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Seluruh amal tergantung pada niatnya dan setiap orang akan
dibalas sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menaati
Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan
barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau
perempuan yang ingin dinikahinya maka hijrahnya hanya akan memperoleh
apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Iman, bab Maa jaa’a
innal a’mal bin niyah wal hisbah wa likullimri’in maa nawa)
18. Tidak mengungkit-ungkit pemberian
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Sahihnya :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ
الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالُوا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ
عَنْ شُعْبَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ مُدْرِكٍ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ
خَرَشَةَ بْنِ الْحُرِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌ قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَ مِرَارًا قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا
مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ
وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ
Abu Bakr bin
Abi Syaibah, Muhammad bin al-Mutsanna, dan Ibnu Basyar menuturkan kepada
kami. Mereka berkata; Muhammad bin Ja’far menuturkan kepada kami dari
Syu’bah dari Ali bin Mudik dari Abu Zur’ah dari Kharasyah bin al-Hurr
dari Abu Dzar -radhiyallahu’anhu- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, beliau bersabda, “Ada tiga kelompok manusia yang tidak diajak
bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan diperhatikan dan tidak
akan disucikan, serta mereka berhak menerima siksa yang sangat pedih.”
Abu Dzar berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan
perkataan itu sebanyak tiga kali. Lalu Abu Dzar mengatakan, “Sungguh
rugi dan binasa mereka itu, siapakah mereka itu wahai Rasulullah?”. Maka
beliau menjawab, “Orang yang menjulurkan pakaiannya/musbil, orang yang
suka mengungkit-ungkit pemberian, dan orang yang melariskan barang
dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman).
19. Khawatir amalnya tidak diterima
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
قَالَ إِبْرَاهِيمُ التَّيْمِيُّ مَا عَرَضْتُ قَوْلِي عَلَى عَمَلِي
إِلَّا خَشِيتُ أَنْ أَكُونَ مُكَذِّبًا وَقَالَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ
أَدْرَكْتُ ثَلَاثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ مَا مِنْهُمْ
أَحَدٌ يَقُولُ إِنَّهُ عَلَى إِيمَانِ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَيُذْكَرُ
عَنْ الْحَسَنِ مَا خَافَهُ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَلَا أَمِنَهُ إِلَّا
مُنَافِقٌ
Ibrahim at-Taimi mengatakan, “Tidaklah aku
membandingkan antara ucapanku dengan amal yang telah aku lakukan
melainkan aku merasa khawatir apabila ternyata aku adalah seorang yang
mendustakan -amalnya menyelisihi ucapannya-.” Ibnu Abi Mulaikah
mengatakan, “Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang Sahabat Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan mereka semua merasa takut
dirinya tertimpa kemunafikan, tidak ada seorang pun di antara mereka
yang mengatakan bahwa dia memiliki iman sebagaimana yang dimiliki oleh
Jibril dan Mika’il.” Dan diriwayatkan pula dari al-Hasan bahwa beliau
mengatakan, “Tidaklah merasa takut akan hal itu kecuali seorang mukmin,
dan tidaklah merasa aman dari tertimpa hal itu kecuali orang munafik.”
(HR. Bukhari secara mu’allaq di dalam Kitab al-Iman, bab Khauful mu’min
anyahbitha ‘amaluhu wahuwa laa yasy’ur)
20. Tidak meremehkan dosa dan pelanggaran
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا مَهْدِيٌّ عَنْ غَيْلَانَ عَنْ
أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا
هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنْ الشَّعَرِ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا
عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ
الْمُوبِقَاتِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ يَعْنِي بِذَلِكَ الْمُهْلِكَاتِ
Abul Walid menuturkan kepada kami. Dia berkata; Mahdi menuturkan kepada
kami dari Ghailan dari Anas radhiyallahu’anhu, dia mengatakan,
“Sesungguhnya kalian akan melakukan perbuatan-perbuatan yang di dalam
pandangan kalian hal itu lebih ringan daripada rambut namun dalam
pandangan kami dulu di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hal itu
termasuk perkara yang mencelakakan.” Abu Abdillah -yaitu Imam Bukhari-
mengatakan, “Yang dimaksud perkara yang mencelakakan adalah yang
membinasakan.” (HR. Bukhari dalam Kitab ar-Riqaq, bab Maa yuttaqa min
muhaqqiratidz dzunub)
21. Berusaha melakukan yang terbaik tapi tidak berlebih-lebihan
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ مُطَهَّرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عُمَرُ
بْنُ عَلِيٍّ عَنْ مَعْنِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْغِفَارِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ
أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ
يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا
وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنْ
الدُّلْجَةِ
Abdussalam bin Muthahhir menuturkan kepada kami.
Dia berkata; Umar bin Ali menuturkan kepada kami dari Ma’n bin Muhammad
al-Ghifari dari Sa’id bin Abu Sa’id al-Maqburi dari Abu Hurairah
-radhiyallahu’anhu- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda, “Sesungguhnya ajaran agama ini mudah. Tidaklah ada seorang pun
yang berlebih-lebihan -mempersulit diri- dalam melakukan ajaran agama
ini kecuali dia pasti kalah. Beramallah sesempurna mungkin, -kalau tidak
sanggup maka- upayakan agar mendekati ideal. Berikan kabar gembira, dan
mintalah pertolongan -kepada Allah- dengan berangkat -untuk beramal- di
awal dan di akhir siang, dan manfaatkanlah sedikit waktu di akhir
malam.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Iman, bab ad-Diin yusrun)
22. Kontinyu dalam beramal
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ
أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَدُومُ
عَلَيْهِ صَاحِبُهُ
Qutaibah menuturkan kepada kami dari Malik
dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah -radhiyallahu’anha- dia
berkata, “Amal -kebaikan- yang paling disukai oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang dilakukan secara terus menerus
oleh pelakunya.” (HR. Bukhari dalam Kitab ar-Riqaq, bab al-Qashdu wal
mudawamah’alal ‘amal)
23. Memiliki pandangan jauh ke depan
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ
عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حُجِبَتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
وَحُجِبَتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ
Isma’il menuturkan kepada
kami. Dia berkata; Malik menuturkan kepadaku dari Abu Zinad dari
al-A’raj dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Neraka itu diliputi dengan
hal-hal yang menyenangkan, sedangkan surga itu diliputi dengan hal-hal
yang tidak menyenangkan.” (HR. Bukhari dalam Kitab ar-Riqaq, bab
Hujibatin naar bisy syahawat)
24. Bersemangat dalam meraih keutamaan
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ وَمُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَا
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ شِهَابٍ عَنْ
سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ
فَقَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ
الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ
Ahmad bin Yunus dan Musa bin Isma’il menuturkan kepada kami. Mereka
berdua berkata; Ibrahim bin Sa’d menuturkan kepada kami. Dia berkata;
Ibnu Syihab menuturkan kepada kami dari Sa’id bin al-Musayyab dari Abu
Hurairah -radhiyallahu’anhu- bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam ditanya mengenai amal apakah yang lebih utama, maka beliau
menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Lalu ditanyakan lagi,
“Kemudian apa?”. Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah.” Lalu
ditanyakan, “Kemudian apa?”. Maka beliau menjawab, “Haji mabrur.” (HR.
Bukhari dalam Kitab al-Iman, bab Man qola innal iman huwal ‘amal)
25. Bertawakal kepada Allah
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ حَدَّثَنَا
شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ حُصَيْنَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ كُنْتُ
قَاعِدًا عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَدْخُلُ
الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ هُمْ
الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ
يَتَوَكَّلُونَ
Ishaq menuturkan kepadaku. Dia berkata; Rauh bin
Ubadah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Syu’bah menuturkan kepada
kami. Dia berkata; Aku mendengar Hushain bin Abdurrahman mengatakan;
Dahulu saya duduk di sisi Sa’id bin Jubair, maka dia mengatakan dari
Ibnu Abbas -radhiyallahu’anhuma- bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Akan masuk ke dalam surga di antara umatku tujuh
puluh ribu orang tanpa hisab, mereka itu adalah orang-orang yang tidak
meminta diruqyah, tidak beranggapan sial (tathayyur), dan mereka hanya
bertawakal kepada Rabb mereka.” (HR. Bukhari dalam Kitab ar-Riqaq, bab W
aman yatawakkal ‘alallah fahuwa hasbuh)
26. Tidak rela menjual agama demi mendapatkan kesenangan dunia
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Sahihnya :
حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ جَمِيعًا
عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ ابْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا
إِسْمَعِيلُ قَالَ أَخْبَرَنِي الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ
يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا
وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا
Yahya bin Ayub, Qutaibah, dan Ibnu Hujr menuturkan kepadaku, semuanya
dari Isma’il bin Ja’far, Yahya bin Ayyub berkata; Isma’il menuturkan
kepada kami. Dia berkata; al-’Alla’ mengabarkan kepadaku dari bapaknya
dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersegeralah dalam melakukan amalan sebelum
datangnya fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita;
ketika itu seorang di waktu pagi masih beriman namun di sore harinya
menjadi kafir, atau di waktu sore dia masih beriman kemudian di pagi
harinya dia menjadi kafir. Dia rela menjual agamanya demi mendapatkan
sekeping kesenangan dunia.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman).
27. Tetap taat kepada penguasa muslim selama tidak untuk bermaksiat
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Sahihnya :
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ عُبَيْدِ
اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ
وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ
فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ
Qutaibah
bin Sa’id menuturkan kepada kami. Dia berkata; Laits menuturkan kepada
kami dari Ubaidillah dari Nafi’ dari Ibnu Umar -radhiyallahu’anhuma-
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Wajib bagi
setiap muslim untuk mendengar dan patuh -kepada penguasa- dalam perkara
yang dia senangi atau yang dibencinya, kecuali apabila dia diperintahkan
untuk bermaksiat. Apabila dia diperintahkan untuk bermaksiat maka tidak
boleh mendengar dan tidak boleh taat.” (HR. Muslim dalam Kitab
al-Imarah)
28. Tidak berambisi kepada jabatan
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Sahihnya :
حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَمُرَةَ قَالَ
قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ
الرَّحْمَنِ لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ
مَسْأَلَةٍ أُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ
أُعِنْتَ عَلَيْهَا
Syaiban bin Farrukh menuturkan kepada kami.
Dia berkata; Jari bin Hazim menuturkan kepada kami. Dia berkata;
al-Hasan menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdurrahman bin Samurah
-radhiyallahu’anhu- menuturkan kepada kami, dia berkata; Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadaku, “Wahai Abdurrahman,
janganlah kamu meminta jabatan kepemimpinan. Sesungguhnya apabila kamu
diberikan jabatan itu karena memintanya maka kamu tidak akan dibantu
menunaikannya, namun apabila kamu diberikan hal itu tanpa sengaja
memintanya maka kamu akan dibantu menunaikannya.” (HR. Muslim dalam
Kitab al-Imarah).
29. Menjauhi dosa-dosa besar
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Sahihnya :
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ
قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ وَقَالَ عُثْمَانُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ
عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُرَحْبِيلَ عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ
لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قَالَ قُلْتُ لَهُ إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ
قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ مَخَافَةَ
أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ
حَلِيلَةَ جَارِكَ
Utsman bin Abi Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim
menuturkan kepada kami, Ishaq berkata; Jarir mengabarkan kepada kami,
sedangkan Utsman mengatakan; Jari menuturkan kepada kami dari Manshur
dari Abu Wa’il dari Amr bin Syurahbil dari Abdullah, dia berkata, “Aku
bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dosa apakah
yang paling besar di sisi Allah?”. Maka beliau menjawab, “Yaitu apabila
kamu menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dia lah yang menciptakanmu.”
Abdullah mengatakan, “Aku berkata kepada beliau, ‘Sesungguhnya itu
adalah dosa yang sangat besar.’.” Abdullah berkata, “Aku berkata;
kemudian apa?”. Maka beliau menjawab, “Yaitu apabila kamu membunuh
anakmu karena takut dia ikut makan bersamamu.” Abdullah berkata, “Lalu
apa lagi?”. Maka beliau menjawab, “Yaitu apabila kamu berzina dengan
isteri tetanggamu.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman)
30. Senang apabila saudaranya mendapatkan kebaikan, tidak dengki kepadanya
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ
قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا
قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ
لِنَفْسِهِ
Musaddad menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yahya
menuturkan kepada kami dari Syu’bah dari Qatadah dari Anas
radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, diriwayatkan
pula dari Husain al-Mu’allim, dia berkata; Qatadah menuturkan kepada
kami dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai
bagi saudaranya -kebaikan- yang dicintainya untuk dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dalam Kitab al-Iman, bab Minal iman anyuhibba liakhihi maa
yuhibbu linafsihi)
31. Menghargai orang lain dan tunduk kepada kebenaran
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Sahihnya :
و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ
وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ دِينَارٍ جَمِيعًا عَنْ يَحْيَى بْنِ حَمَّادٍ قَالَ
ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ
عَنْ أَبَانَ بْ
31. Menghargai orang lain dan tunduk kepada kebenaran
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Sahihnya :
و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ
وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ دِينَارٍ جَمِيعًا عَنْ يَحْيَى بْنِ حَمَّادٍ قَالَ
ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ
عَنْ أَبَانَ بْنِ تَغْلِبَ عَنْ فُضَيْلٍ الْفُقَيْمِيِّ عَنْ
إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ
كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ
حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ
الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Muhammad bin al-Mutsanna, Muhammad bin Basyar, dan Ibrahim bin Dinar
menuturkan kepada kami, semuanya dari Yahya bin Hammad, Ibn al-Mutsanna
mengatakan; Yahya bin Hammad menuturkan kepadaku. Dia berkata; Syu’bah
mengabarkan kepada kami dari Aban bin Taghlib dari Fudhail al-Fuqaimi
dari Ibrahim an-Nakha’i dari Alqomah dari Abdullah bin Mas’ud
-radhiyallahu’anhu- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat
kesombongan walaupun hanya sekecil anak semut.” Maka ada seorang yang
berkata, “Sesungguhnya seseorang menyukai apabila dia mempunyai pakaian
yang bagus dan sandal yang bagus, lalu bagaimana?”. Maka beliau
mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu Maha indah dan menyukai keindahan,
hakikat sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”
(HR. Muslim dalam Kitab al-Iman).
32. Berkata-kata baik atau diam
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا
إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ
يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
Abdul Aziz bin Abdullah menuturkan kepadaku. Dia berkata; Ibrahim
bin Sa’d menuturkan kepada kami dari Ibnu Syihab dari Abu Salamah dari
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir maka ucapkanlah yang baik atau diam. Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia menyakiti tetangganya.
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah
tamunya.” (HR. Bukhari dalam Kitab ar-Riqaq, bab Hifzhul lisan)
33. Tidak menyakiti saudaranya tanpa hak
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقُرَشِيُّ قَالَ
حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو بُرْدَةَ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ
قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Sa’id bin Yahya bin Sa’id al-Qurasyi menuturkan kepada kami. Dia
berkata; Ayahku menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abu Burdah bin
Abdullah bin Abu Burdah menuturkan dari Abu Burdah dari Abu Musa
radhiyallahu’anhu, dia berkata; Mereka -para sahabat- berkata, “Wahai
Rasulullah, Islam yang manakah yang lebih utama?”. Maka beliau menjawab,
“Yaitu keislaman orang yang dapat membuat orang Islam lainnya selamat
dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Iman,
bab Ayyul Islam afdhal)
15 menit yang lalu · Suka
Siti Aisyah 34. Tidak mengadu domba saudaranya
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Sahihnya :
و حَدَّثَنِي شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ
مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مَهْدِيٌّ وَهُوَ
ابْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ الْأَحْدَبُ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ
حُذَيْفَةَ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَجُلًا يَنُمُّ الْحَدِيثَ فَقَالَ
حُذَيْفَةُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقُولُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
Syaiban bin
Farrukh dan Abdullah bin Asma’ ad-Dhuba’i menuturkan kepadaku, mereka
berdua berkata Mahdi yaitu Ibnu Maimun menuturkan kepada kami. Dia
berkata; Washil al-Ahdab menuturkan kepada kami dari Abu Wa’il dari
Hudzaifah bahwa telah sampai kepadanya ada seorang lelaki yang suka
mengadu domba ucapan, maka Hudzaifah -radhiyallahu’anhu- pun mengatakan;
Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak
akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Muslim dalam
Kitab al-Iman)
35. Tidak mengganggu tetangga
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ
وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ جَمِيعًا عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ
ابْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ قَالَ أَخْبَرَنِي الْعَلَاءُ عَنْ
أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ
جَارُهُ بَوَائِقَهُ
Yahya bin Ayub, Qutaibah bin Sa’id, dan
Ali bin Hujr mereka semua menuturkan kepada kami dari Isma’il bin
Ja’far, Ibnu Ayyub berkata; Isma’il menuturkan kepada kami. Dia berkata;
al-’Alla’ mengabarkan kepada saya dari bapaknya dari Abu Hurairah
-radhiyallahu’anhu- bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak bisa
merasa aman dari gangguan-gangguannya.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman)
36. Menjauhi perkara syubhat
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ
قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْحَلَالُ بَيِّنٌ
وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ
مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ
وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ
الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى
أَلَا إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي
الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا
فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Abu Nu’aim menuturkan kepada kami. Dia berkata; Zakariya menuturkan
kepada kami dari Amir, dia berkata; Aku mendengar an-Nu’man bin Basyir
-radhiyallahu’anhuma- mengatakan; Aku mendengar Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Perkara yang halal itu jelas dan perkara
yang haram itu jelas, sedangkan di antara keduanya terdapat
perkara-perkara yang samar dan banyak orang yang tidak mengetahui
hukumnya. Barangsiapa yang menjaga diri dari perkara-perkara yang samar
tersebut maka dia telah menjaga kebersihan agama dan harga dirinya. Dan
barangsiapa yang terjerumus dalam perkara-perkara yang samar tersebut
maka ia sebagaimana halnya seorang penggembala yang menggembala di
sekitar daerah larangan hampir-hampir saja dia menerjangnya. Ketahuilah,
sesungguhnya setiap raja pasti memiliki daerah larangan. Ketahuilah,
sesungguhnya daerah larangan Allah adalah perkara-perkara yang
diharamkan-Nya. Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat
segumpal daging. Apabila ia sehat maka sehatlah seluruh tubuh. Dan
apabila ia sakit maka sakitlah seluruh tubuh, ketahuilah sesungguhnya
segumpal daging itu adalah jantung.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Iman,
bab Fadhlu man istabra’a li diinih)
_______________
Sumber: http://abumushlih.com/keindahan-manhaj-salafus-shalih.html/
SERBA SALAH JADI ORANG AWAM (Njaluke kepiye?)
01. "Masak memberikan ucapan selamat Natal ke teman saya aja gak boleh, padahal aku gak ikut2an merayakannya kok, jadi yang boleh apa ???"
02. "Ya udah, kalo gak boleh mengucapkan selamat Natal, mendingan merayakan Tahun baru aja dech.."
03. "Haaah ??!! Merayakan tahun baru juga gak bolehh ???? Katanya itu hari rayanya orang nasrani ?? Jadi yang boleh apa donk ??? Ya udah, kalo gak boleh juga, aku gak akan merayakannya. Aku cuman niup terompet aja di malam tahun baru.."
04. "Nah lhooo ??! Niup terompet juga gak boleh ?? Katanya itu tasyabbuh (mengikuti) orang yahudi.. Hhmm... Ini salah, itu salah, ya udah, aku merayakan tahun baru islam saja yaitu tahun baru hijriyah, gak salah lagi dah, hehe.."
05. "Busyet daaaah !!? Merayakan tahun baru islam juga gak boleh ????? Katanya itu mengada-ada dan tidak pernah dilakukan Nabi sama Sahabat2nya. Koq jadi serba salah semuanya ??!! Jadi yang benar apa donk ???? Ok, kalo merayakan tahun baru islam gak boleh, aku akan merayakan hari rayanya umat islam aja, yaitu hari raya idul fithri, kebangetan kalo gak boleh juga !! Aku akan takbiran konvoi keliling kota sambil pukul beduk di hari raya itu !!!"
06. "Jreeeennggggg ?????? Gak boleh juga ???? Koq semuanya serba gak boleh ??? Ini gak boleh, itu gak boleh, mana yang benar ??? Koq susah amat mau beramal aja. Entar aku gak mau beramal sama sekali lho !!!!"
(Maaf saudara2, nomornya diloncatin ya, hehe..)
99. "Alhamdulillah.. Setelah aku banyak menuntut ilmu, akhirnya aku tahu sekarang mana yang benar dan mana yang salah.. Inilah hidayah dari Allaah, sehingga aku bisa merasakan manisnya iman.. Aku sekarang tahu kenapa dulu aku gak boleh beramal ini dan itu.. Aku sekarang tahu kenapa gak boleh konvoi dan takbiran keliling kota, kita cukup merayakannya dengan sederhana saja sesuai syari'at. Masyaa Allaah, ternyata Islam itu sederhana kok, tinggal nurut dan ikut aja sama tuntunan shahiih. Inilah hikmahnya jika kita banyak menuntut ilmu yang syar’i dan sesuai sunnah.. Padahal agama ini sangat mudah jika kita mengetahuinya."
Allaah subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar:9).
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan padanya, maka dia akan dipahamkan/difaqihkan dalam (urusan) agama.” (HR. Bukhari )
Hanya pada Allaah kita memohon petunjuk..
[Taken from : Abu Fahd]
PERBEDAAN SALAFI DENGAN WAHABI
(Buat yang gak bisa bedakan mana wahabi dan mana manhaj salaf)
Pendiri Wahabi adalah Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum wafat 211 H. Bukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab wafat 1206 H
Sebenarnya, Al-Wahabiyah merupakan firqah sempalan Ibadhiyah khawarij
yang timbul pada abad ke 2 (dua) Hijriyah (jauh sebelum masa Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahab), yaitu sebutan Wahabi nisbat kepada tokoh
sentralnya Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum yang wafat tahun 211
H. Wahabi merupakan kelompok yang sangat ekstrim kepada ahli sunnah,
sangat membenci syiah dan sangat jauh dari Islam.
Untuk
menciptakan permusuhan di tengah Umat Islam, kaum Imperialisme dan kaum
munafikun memancing di air keruh dengan menyematkan baju lama (Wahabi)
dengan berbagai atribut penyimpangan dan kesesatannya untuk menghantam
dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab atau setiap dakwah mana saja yang
mengajak untuk memurnikan Islam. Karena dakwah beliau sanggup
merontokkan kebatilan, menghancurkan angan-angan kaum durjana dan
melumatkan tahta agen-agen asing, maka dakwah beliau dianggap sebagai
penghalang yang mengancam eksistensi mereka di negeri-negeri Islam.
Contohnya: Inggris mengulirkan isue wahabi di India, Prancis
menggulirkan isu wahabi di Afrika Utara, bahkan Mesir menuduh semua
kelompok yang menegakkan dakwah tauhid dengan sebutan Wahabi, Italia
juga mengipaskan tuduhan wahabi di Libia, dan Belanda di Indonesia,
bahkan menuduh Imam Bonjol yang mengobarkan perang Padri sebagai
kelompok yang beraliran Wahabi. Semua itu, mereka lakukan karena mereka
sangat ketakutan terhadap pengaruh murid-murid Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahab yang mengobarkan jihad melawan Imperialisme di masing-masing
negeri Islam.
Tuduhan buruk yang mereka lancarkan kepada dakwah beliau hanya didasari tiga faktor:
1. Tuduhan itu berasal dari para tokoh agama yang memutarbalikkan
kebenaran, yang hak dikatakan bathil dan sebaliknya, keyakinan mereka
bahwa mendirikan bangunan dan masjid di atas kuburan, berdoa dan meminta
bantuan kepada mayit dan semisalnya termasuk bagian dari ajaran Islam.
Dan barangsiapa yang mengingkarinya dianggap membenci orang-orang shalih
dan para wali.
2. Mereka berasal dari kalangan ilmuwan namun
tidak mengetahui secara benar tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
dan dakwahnya, bahkan mereka hanya mendengar tentang beliau dari pihak
yang sentimen dan tidak senang Islam kembali jaya, sehingga mereka
mencela beliau dan dakwahnya sehingga memberinya sebutan Wahabi.
3. Ada sebagian dari mereka takut kehilangan posisi dan popularitas
karena dakwah tauhid masuk wilayah mereka, yang akhirnya menumbangkan
proyek raksasa yang mereka bangun siang malam.
Dan barangsiapa
ingin mengetahui secara utuh tentang pemikiran dan ajaran Syaikh
Muhammad (Abdul Wahab) maka hendaklah membaca kitab-kitab beliau seperti
Kitab Tauhid, Kasyfu as-Syubhat, Usul ats-Tsalatsah dan Rasail beliau
yang sudah banyak beredar baik berbahasa arab atau Indonesia.
Penulis: Ustadz Zainal Abidin, Lc. Dan Artikel ini sebelumnya
dipublikasikan oleh Koran Republika, edisi Selasa, 25 Agustus
2009.Dipublikasi ulang oleh muslim.or.id dengan penambahan beberapa
catatan kecil.
http://muslim.or.id/manhaj/wahabisme-versus-terorisme.html
FATWA AL-LAKHMI DITUJUKAN KEPADA WAHABI (ABDUL WAHHAB BIN ABDURRAHMAN
BIN RUSTUM) SANG TOKOH KHAWARIJ BUKAN KEPADA SYAIKH MUHAMMAD ABDUL WAHAB
Mengenai fatwa Al-Imam Al-Lakhmi yang dia mengatakan bahwa
Al-Wahhabiyyah adalah salah satu dari kelompok sesat Khawarij. Maka yg
dia maksudkan adalah Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum dan
kelompoknya bukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para
pengikutnya. Hal ini karena tahun wafat Al-Lakhmi adalah 478 H sedangkan
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab wafat pada tahun 1206 H /Juni atau
Juli 1792 M. Amatlah janggal bila ada orang yg telah wafat namun
berfatwa tentang seseorang yg hidup berabad-abad setelahnya. Adapun
Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum maka dia meninggal pada tahun
211 H. Sehingga amatlah tepat bila fatwa Al-Lakhmi tertuju kepadanya.
Berikut Al-Lakhmi merupakan mufti Andalusia dan Afrika Utara dan fitnah
Wahhabiyyah Rustumiyyah ini terjadi di Afrika Utara. Sementara di masa
Al-Lakhmi hubungan antara Najd dgn Andalusia dan Afrika Utara amatlah
jauh. Sehingga bukti sejarah ini semakin menguatkan bahwa Wahhabiyyah
Khawarij yg diperingatkan Al-Lakhmi adl Wahhabiyyah Rustumiyyah bukan
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya. [Lihat kitab
Al-Mu’rib Fi Fatawa Ahlil Maghrib, karya Ahmad bin Muhammad
Al-Wansyarisi, juz 11.]
Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc. Syariah Manhaji 24 – Maret – 2006 20:20:30
Perbedaan Da’wah Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum Dan Da’wah Syaikh Muhammad Abdul Wahhab
1.Da’wah Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum (Khawarij)
Khawarij adalah salah satu kelompok dari kaum muslimin yang
mengkafirkan pelaku maksiat (dosa besar), membangkang dan memberontak
terhadap pemerintah Islam, dan keluar dari jama’ah kaum muslimin.
Termasuk dalam kategori Khawarij, adalah Khawarij generasi awal
(Muhakkimah Haruriyah) dan sempalan-sempalannya, seperti al-Azariqah,
ash-Shafariyyah, dan an-Najdat –ketiganya sudah lenyap– dan al-Ibadhiyah
–masih ada hingga sekarang–. Termasuk pula dalam kategori Khawarij,
adalah siapa saja yang dasar-dasar jalan hidupnya seperti mereka,
seperti Jama’ah Takfir dan Hijrah. Atas dasar ini, maka bisa saja
Khawarij muncul di sepanjang masa, bahkan betul-betul akan muncul pada
akhir zaman, seperti telah diberitakan oleh Rasulullah.
“Pada
akhir zaman akan muncul suatu kaum yang usianya rata-rata masih muda dan
sedikit ilmunya. Perkataan mereka adalah sebaik-baik perkataan manusia,
namun tidaklah keimanan mereka melampaui tenggorokan Maksudnya, mereka
beriman hanya sebatas perkataan tidak sampai ke dalam hatinya – red.
Mereka terlepas dari agama; maksudnya, keluar dari ketaatan – red
sebagaimana terlepasnya anak panah dari busurnya. Maka di mana saja
kalian menjumpai mereka, bunuhlah! Karena hal itu mendapat pahala di
hari Kiamat.” (HR. Al Bukhari no. 6930, Muslim no. 1066)
Lihat kelengkapannya Di sini
http://alqiyamah.wordpress.com/2008/06/22/khawarij-bahaya-laten-bagi-kaum-muslimin/
2. Da’wah Syaikh Muhammad Abdul Wahhab (Ahlussunnah Wal Jama’ah)
Alangkah baiknya kami paparkan terlebih dahulu penjelasan singkat
tentang hakikat dakwah yang beliau serukan. Karena hingga saat ini ‘para
musuh’ dakwah beliau masih terus membangun dinding tebal di hadapan
orang-orang awam, sehingga mereka terhalang untuk melihat hakikat dakwah
sebenarnya yang diusung oleh beliau.
Syaikh berkata,
“Segala puji dan karunia dari Allah, serta kekuatan hanyalah bersumber
dari-Nya. Sesungguhnya Allah ta’ala telah memberikan hidayah kepadaku
untuk menempuh jalan lurus, yaitu agama yang benar; agama Nabi Ibrahim
yang lurus, dan Nabi Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang
musyrik. Alhamdulillah aku bukanlah orang yang mengajak kepada ajaran
sufi, ajaran imam tertentu yang aku agungkan atau ajaran orang filsafat.
Akan tetapi aku mengajak kepada Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya, dan
mengajak kepada sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
telah diwasiatkan kepada seluruh umatnya. Aku berharap untuk tidak
menolak kebenaran jika datang kepadaku. Bahkan aku jadikan Allah, para
malaikat-Nya serta seluruh makhluk-Nya sebagai saksi bahwa jika datang
kepada kami kebenaran darimu maka aku akan menerimanya dengan lapang
dada. Lalu akan kubuang jauh-jauh semua yang menyelisihinya walaupun itu
perkataan Imamku, kecuali perkataan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa
sallam karena beliau tidak pernah menyampaikan selain kebenaran.” (Kitab
ad-Durar as-Saniyyah: I/37-38).
“Alhamdulillah, aku termasuk
orang yang senantiasa berusaha mengikuti dalil, bukan orang yang
mengada-adakan hal yang baru dalam agama.” (Kitab Muallafat Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahab: V/36).
Lihat kelengkapannya di sini
http://muslim.or.id/manhaj/buku-putih-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahab-1.html
http://muslim.or.id/manhaj/buku-putih-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahab-2.html
http://muslim.or.id/aqidah/inilah-aqidah-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahhab.html
Jadi ternyata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bukan wahabi dan wahabi
bukan dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Akan tetapi Wahabi dari
Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum
Demikian pula ternyata Salafy bukan wahabi dan wahabi bukan Salafy karena berbeda dalam Aqidah dan Manhaj
Dan negara Kerajaan Saudi Arabia bukan negara wahabi. Akan tetapi Negara Islam yang Bermanhaj Salaf
Dan Jika Kami (Salafi) Masih dituduh Wahabi maka saksikanlah kami adalah (Salafi) Wahabi yang Bermanhaj Salaf
Sumber : http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/03/14/perbedaan-wahabi-dan-salafy/
DAFTAR RANGKAIAN NAMA ISLAMI ANAK LAKI-LAKI
1. ABBAD NAILUN NABHAN
Laki-laki yang tekun beribadah dan mendapatkan kemuliaan
2. ABDU ARIQIN HALIM
Seorang hamba yang berbudi baik dan lembut
3. ABDUH HUBBU SYARIF
Hamba Allah yang mencintai kemuliaan
-
4. ABDUL LATIF ABBASY
Hamba Allah yang lembut dan rajin berusaha
-
5. ABU DZAR AL-GHIFARI
Anak laki-laki yang selalu memaafkan bagaikan debu yang beterbangan
-
6. ADLIE FAIRUZ
Anak laki-laki yang adil semulia batu piruz
-
7. AFFAN NUR MAJID
Pendaki cahaya kemuliaan
-
8. AFIF FIRDAUS
Laki-laki yang menjaga kesucian diri semoga menjadi penghuni Surga Firdaus
-
9. AFIF KHALAF FAITH
Anak baik yang memiliki harga diri seperti pemimpin
-
10. AHMAD GHOZALI KHAIRI
Prajurit yang terpuji dan memiliki kebaikan
-
11. AKHDAN LATIF AZIZAN
Sahabat yang lembut dan mulia
-
12. AKMAL LATHIF KHALIFAH
Pemimpin yang sempurna dan lembut
-
13. ALFIAN RIZQIE MUTHA
Seribu rezeki yang didermakan
-
14. ALIF ZIYAD
Lembut dan ramah adalah suatu kelebihan
-
15. ALIM RIZQI ZUHDI
Rendah hati dan suka memberi ilmu
-
16. ARIEF FAITH GHAFAR
Pemimpin yang bijaksana dan suka memaafkan
-
17. ARIFIN FARHAN RAIF
Sang penyayang adalah orang yang bijaksana dan gembira
-
18. ARKAN SAID RAMADHAN
Bulan Ramadhan yang penuh dengan kemuliaan dan kebahagiaan
-
19. ASYAM ARIFIN
Pemimpin mulia adalah orang yang bijaksana
-
20. ASYRAF RASYID QUTHB
Pemimpin yang mendapatkan petunjuk lebih mulia
-
21. ATAYA RAFIQ
Hadiah, petunjuk dari teman akrab
-
22. ATHA RASYID RIZQI
Kebaikan yang memberikan kita petunjuk
-
23. AUFA RIJAL RAIS
Anak laiki-laki yang tepat untuk menjadi pemimipin
-
24. AZIZUL RASYAD
Petunjuk yang kuat
-
25. AZMI HAIL
Keteguhan hati yg luar biasa
-
26. BADAR TAMIM
Bulan purnama yang memiliki daya cipta sempurna
-
27. BADRANI WASIM
Dua bulan purnama yang rupawan
-
28. BADY RAMADHAN
Bulan ramadhan yang terlihat nyata
-
29. BAHIR BATHLATHUN EL-BASIL
Pemuda rupawan dan pahlawan yang pemberani
-
30. BAHIR SHIRAJ ADDIEN
Pelita agama yang bersinar terang
-
31. BAHTIAR JEFRY HUSNI
Tanah perdamaian yang kaya dan indah
-
32. BAIT AL-QARIS QURRATAAIN
Rumah yang sangat sejuk dan sedap dipandang mata
-
33. BAKRIE MUNIR JAUHAR
Permata yang bersinar di pagi hari
-
34. BANI KHAFID
Keturunan laki-laki penghafal Al-Qur’an
-
35. BANU MIBRAS NAUFAL
Putra pemberani dan dermawan
-
36. BARIE GHANDUR HABIBULLAH
Pemuda tampan dan cerdas kekasih Allah
-
37. BARIQ KHALAF MAHDY
Anak yang baik yang mendapat hidayah dan cahaya
-
38. BASAM ADIS MAAJID
Senyuman anak laki-laki yang mulia
-
39. BUKHARI JAWAD KAMIL
Anak laki-laki yang pemurah dan sempurna seperti Imam Bukhari sang perawi Hadits
-
40. BURHAN SHABIR SHABRI
Orang yang tabah dalam menghadapi rintangan adalah bukti kesabaran
-
41. BUSTAN EL-RAIHAN MAHFUZH
Pohon yang wangi dan terpelihara di taman
-
42. DAFFA IBNU HAFIDZ
Anak laki-laki yang memelihara sesuatu dan memiliki pertahanan diri
-
43. DAHLAN ZAINUL ARIFIN
Orang yang baik, bijaksana dan memiliki kelebihan
-
44. DAI RIJAL EL-RAFIF
Anak laki-laki pejuang dakwah yang berakhlak baik
-
45. DANY FAYYADHI ZHAFAR
Orang yang dekat dengan kemenangan yang mulia
-
46. DARIS TAMIM SADAD
Pelajar yang memiliki daya cipta yang sempurna dan bertindak tepat
-
47. DARU SYARIF FIRDAUS
Orang yang terhormat dan mulia memiliki tempat yang damai di surga
-
48. DARY MUHADZDZIB
Orang yang bijaksana dan memiliki akhlak terpuji
-
49. DHAWY TAJUDDIN SAFAR
Mahkota agama yang bersinar di bulan Safar
-
50. DHIRGHAM HAIDAR ARHAB
Singa pemberani yang berfikir tajam
-
51. DZAKIR KHAFADI
Penghafal Al-Qur'an yang memiliki daya ingat kuat
-
52. DZAKWAN TAJUSA
Mahkota segala raja yang harum semerbak
-
53. DZAKY ALMAIR JAMIL
Pangeran yang tampan dan cerdas
-
54. FAAL HASAN ISMAM
Suami setia yang tampan dan suka bekerja
-
55. FADHIL SAADI ZAHID
Anak laki-laki yang mulia, bijaksana dan rendah hati
-
56. FADHIL YAQDAN NASRULLAH
Orang yang terjaga kebaikannya akan mendapat pertolongan Allah
-
57. FADHIL YAQDAN NASRULLAH
Orang yang terjaga kebaikannya akan mendapat pertolongan Allah
-
58. FAHMI AMMAR
Anak laki-laki yang memiliki pemahaman dan keimanan yang kuat
-
59. FAIRUZ EL-BAHRIE IZDIHAR
Sungai permata yang berkilau
-
60. FAISAL KHALIL
Sahabat yang dapat dipercaya sebagai pemisah yang benar dan yang salah
-
61. FAITH SYUJA RUSYDI
Pemimpin pemberani yang menunjukan jalan yang lurus
-
62. FAIZ JUNAIDI
Tentara yang menang
-
63. FAKHRIE ZHAFRAN KHAIRY
Kebanggaan orang yang menang dalam kebaikan
-
64. FALAH ASSAHIB RAHMAT
Teman yang beruntung dan mendapat kasih sayang Allah
-
65. FAQIH KHAIRY RAHMAN
Ahli fiqih yang banyak memiliki kebaikan dan kasih sayang
-
66. FARID ATALLAH
Karunia Allah yang tidak ada bandingnya
-
67. FATHAN AL-MAISAN ZHAFAR
Bintang pembuka kemenangan
-
68. FAYI RIJAL SHABUHA
Laki-laki yang harum wajahnya berseri-seri
-
69. FIKRI NAKHLA RAFIE
Orang besar dan pandai yang memiliki cita-cita tinggi
-
70. GHAFAR ARIEF
anak laki-laki yang suka memaafkan dan bijaksana
-
71. GHALY SAAD RIFAI
Anak laki-laki yang berharga, bijaksana dan tinggi martabatnya
-
72. GHANY YAZID KHAIRY
Kekayaan yang semakin bertambah adalah kebaikan
-
73. GHAZALY DZAKIR
Daya ingat yang kuat secepat kijang
-
74. GHAZY GHALIBIE
Prajurit yang menang
-
75. GHUFRON SAJADI TAISIR
Anak laki-laki yang bersujud kepada Allah mendapat pengampunan dan kemudahan
-
76. HAFIDZ RAFIE RABBANI
Kedudukan tinggi yang terpelihara karena Allah semata
-
77. HAIDAR SAADI
Singa yang bijaksana
-
78. HAIL QURUNUL BAHRI
Mutiara laut yang luar biasa
-
79. HAMDANI KHAFIE NAJIH
Pujian yang tersembunyi sebagai anugerah sebuah petunjuk
-
80. HANIF ABBAD
Muslim yang teguh dan tekun beribadah
-
81. HARIS ATHA
Kerinduan adalah sebuah anugerah
-
82. HARUN ABDURRAHMAN
Semoga seperti Nabi Harun hamba dari Allah yang maha pengasih
-
83. HAUZAN IRHAB NABIL
Manusia yang berfikir tajam dan terhormat
-
84. HAZIM ZHAFRAN
Orang yang menang adalah yang berkemauan keras
-
85. HELMI YAQDHAN
Orang yang sabar dan berakal dan selalu terjaga
-
86. HILAL ABIYU JAMAIL
Bulan sabit yang indah dan mulia
-
87. HUDA MAHDY ASSAJID
Orang yang bersujud kepada Allah akan mendapat hidayah dan petunjuk
-
88. HUMAM ZADA
Anak laki-laki yang pemberani dan beruntung
-
89. IFAT AS-SYARIF
Orang yang terhormat dan mulia yang senantiasa menjaga diri
-
90. IHSAN JALALUDDIN
Kebajikan dan keluhuran agama
-
91. IKHWAN MARUF YAFIE
Laki-laki baik yang tinggi dan terhormat
-
92. ILHAM AYADI
Isyarat yang baik dari sesuatu yang dapat menguatkan
-
93. IMRAN MAMUN
Pemimpin yang dipercaya
-
94. IQBAL ARKAB GHAFUR
Anak laki-laki yang sejahtera dan memiliki hati yang lapang serta suka memaafkan
-
95. IRFAN YUSRAN
anak laki-laki yang memiliki pengetahuan dan kekayaan
-
96. ISMAT YAQDHAN
Anak laki-laki yang terjaga kekuatannya untuk mejauhi maksiat
-
97. ISTADZ MUNIB
Guru yang berada di jalan Allah
-
98. ISTAHAL NAKHLAN RAKANI
Bagian yang dikehendaki orang besar dan pandai adalah kemuliaan
-
99. ITAF ZAHRANI
Pedang yang berkilau
-
100. IZAZ SYAKIB
Kecintaan yang memberikan kebaikan
-
101. IZAZ SYAKIR TABLIG
Kecintaan dan rasa syukur seseorang dengan mensyiarkan Islam
-
102. JABAR ASYAMIE
Pemimpin mulia yang memiliki kekuatan dan kekuasan
-
103. JABIR FAKHRUDDIN
Pembaharu yang agung sebagai kebanggaan agama
-
104. JAFAR SHAFWAN FIRDAUS
Bagaikan sungai yang jernih di surga Firdaus
-
105. JALIL SYARIF FAWWAZI
Laki-laki terhormat yang memiliki kekuasaan besar dan keberuntungan
-
106. JAMAL JAWAHIR
Permata-permata yang indah
-
107. JAMALUDDIN FARID
Keindahan agama yang tidak ada bandingnya
-
108. JAMHURI TSAQIEB
Ilmuan yang cerdas
-
109. JAMIL ALAWI QODAMA
Semoga seperti keturunan Ali bin abi Thalib yang tampan dan pemberani
-
110. JAWAD KHALAF HUBBAN
Anak baik yang pemurah dan penuh cinta kasih
-
111. JAWAHIR BARRAQ ASYRAF
Permata-permata yang lebih mulia dan berkilauan
-
112. JUNAID ASLAM
Tentara yang selamat
-
113. JUNAID MAULANA RAFIF
Tentara yang dihormati karena berakhlak baik
-
114. KAFIE EL-AZZAM
Kemauan kuat yang sempurna
-
115. KAMAL IZZUDDIN BAHAR
Kesempurnaan dan kemulian agama yang berkilauan
-
116. KAMIL AHSAN EL-JUNDI
Prajurit yang sempurna kebaikannya
-
117. KAMIL MUHYIDDIN
Anak laki-laki yang sempurna menghidupkan agama
-
118. KAZHIM ZAINAL ARIEF
Orang yang dapat mengekang amarah, baik dan bijaksana
-
119. KHAFID NUMAN RIFAI
Laki-laki penghafal Al Qur’an sebagai anugerah hidup yang tinggi
-
120. KHALIL ZAYAN
Sahabat yang dapat dipercaya sangat elok wajahnya
-
121. KHALIQ JUNAIDI AKMAL
Pencipta prajurit yang lebih sempurna
-
122. KHALIQ NAJAMUDDIN ZUHDI
Bintang agama yang menciptakan kerendahan hati
-
123. KHASYI SALAHUDDIN
Laki-laki yang khusyu dalam sholat dan menegakkan tiang agama
-
124. KHATAM LAAL BARRAQIE
Cincin intan berwarna merah yang berkilauan
-
125. KHIAR KHATAM RAMADHAN
Kebaikan yang diterima di penghujung bulan Ramadhan
-
126. KHIAR NABHAN AL-QUDS
Laki-laki baik yang mulia dan suci
-
127. LAMYA NAJMU ADDIEN
Laki-laki yang berkilau bagaikan bintang agama
-
128. LATHIEF AKMAL EL-AZZAM
Laki-laki yang memiliki kelembutan dan kemauan kuat yang lebih sempurna
-
129. LUAY AKHDAN MAHFUDZ
Kekuatan seorang sahabat yang terpelihara
-
130. LUQMAN HAKIM AYYASI
Mudah mudahan seperti Luqman yang bijaksana dan berumur panjang
-
131. LUTHFIE SAKHI ZAIDAN
Laki-laki lembut yang murah hati dan memiliki banyak kelebihan
-
132. MAHBUB JUNAIDI
Prajurit yang dicintai
-
133. MAJDI BADRANI
Kemuliaan dua bulan purnama
-
134. MAJID FAKHRUDDIN
Anak laki-laki yang berbudi luhur yang merupakan kebanggaan agama
-
135. MALKA SYARIEF FIRDAUS
Tempat bertemunya orang yang mulia dan terhormat adalah di surga Firdaus
-
136. MIRZA UKAIL
Anak laki-laki yang baik dan pandai
-
137. MUHAMI YAFI
Pengacara yang tinggi dan terhormat
-
138. MUHSIN TAMAM
Laki-laki yang berbuat kebaikan dengan sempurna
-
139. MUNADHIL ISMAN HALIM
Suami setia yang menolong dengan penuh kelembutan dan kesabaran
-
140. NABHAN ZULFADHLI
Anak laki-laki yang mulia dan mempunyai banyak kelebihan
-
141. NABIHAN KHALIQ
Anak laki-laki yang mulia dan kreatif
-
142. NABIL FAYADH
Anak laki-laki yang cerdik dan murah hati
-
143. NAJDAT ALTAMIS
Panglima yang pemberani
-
144. NAUFAL AFKAR
Anak laki-laki yang dermawan dan bijak
-
145. NAWAF SYIHABUDDIN YAFIQ
Bintang Agama yang tinggi dan mulia
-
146. NAZRAN SAADUDDIN
Visi agama yang membahagiakan
-
147. NIYAZ KHALIL
Harapan dari seorang sahabat
-
148. NURHAN AFKAR FADHIL
Cahaya raja yang bijak dan utama
-
149. NUWAIR BADRUN
Anak laki-laki yang bagaikan cahaya bulan purnama
-
150. QAID JAMAIL
Panglima perang yang tampan
-
151. QARY AHNAF
Pembaca Al-Qur'an yang memiliki keteguhan iman yang lebih
-
152. QINDI IZZATUL MUNAWWIR
Pelita kemuliaan yang bersinar
-
153. QOWIYYAN AMIN
Ank laki-laki yang kuat dan terpercaya
-
154. QUTHBIE ZAYAN
Pemimipin yang sangat elok wajahnya
-
155. RAFIE AHMAD
Anak laki-laki yang memiliki kedudukan yang tinggi dan terpuji
-
156. RAFIQI HAMLAN
Sahabat yang mandiri
-
157. RAID KHADIM SHALIHAN
Pemimpin sukarelawan yang baik
-
158. RAIF ANAQIE
Sang penyayang yang indah menawan hati
-
159. RAIHAN MAWARDI KHALIS
Air mawarku yang wangi dan suci
-
160. RAMADHAN AHNAF
Bulan Ramadhan yang penuh dengan keteguhan iman
-
161. RAZIQ HANAN
Anak laki-laki yang murah rizeki dan dikasihi Allah
-
162. RIFQIE NADIM UKAIL
Sahabat yang lemah lembut dan pintar
-
163. RIYAD JINAN FAYI
Taman Surga yang wangi
-
164. RUZAIN ANWAR
Tempat yang tentram dan bercahaya
-
165. SABIQ EL-FATHIN
Anak laki-laki cerdas yang terdepan
-
166. SABQIE HAMZAH AZIB
Keutamaanku adalah kebijaksanaan dan kesabaran
-
167. SAFARAZ AKMA FADHIL
Anak laki-laki yang terhormat sebagai pemimpin yang mulia
-
168. SAFWAN HASNAWI
Anak laki-laki dari keturunan mulia yang bersih dan penuh keikhlasan
-
169. SAHLAN IMRAN JAZLI
Anak laki-laki yang memiliki kemudahan budi bahasa dan fasih
-
170. SAID KHAIRUL IKHWAN
Anak laki-laki yang bahagia adalah saudara yang baik
-
171. SAIFUL HADZIQ AFIF
Anak laki yang memiliki kecerdasan yang tajam dan senantiasa menjaga kesucian diri
-
172. SAIFULLAH MUHAIMIN
Pedang Allah yang menjaga dan memelihara
-
173. SAKHI KAFIL HUSAIN
Majikan yang murah hati dan baik
-
174. SHALAHUDDIN WADI
Kebaikan agama yang menentramkan
-
175. SYABIL ZUNNURAIN
Bintang yang mempunyai dua cahaya
-
176. SYABILUL HADDAD MUNIR
Lautan bintang yang bercahaya
-
177. SYAFI ASSYAUQIE
Anak laki-laki pengobat rindu
-
178. SYAFIQ KHAIRY NASYWAN
Anak laki-laki penyayang yang baik dan gembira
-
179. SYAHMI EL-JUNDI BAHAA
Prajurit yang berani dan elegan
-
180. SYAMSI NUR HIDAYAT
Matahariku cahaya petunjuk
-
181. SYAMSUDDIN SYARIF
Matahari agama yang mulia
-
182. SYAMSUL BAHRI ALAFA
Lautan matahari yang mendamaikan
-
183. SYUKRAN ANNAFI
Keyukuran yang memberikan manfaat
-
184. SYUKRIE ATALLAH SHAHIH
Ksyukuranku sebagai karunia Allah yang sempurna
-
185. TAHFIZ ILMAN KHATAB
Ahli pidato yang hafal akan ilmu
-
186. TAHSIN AGHA AFKAR
Anak laki-laki pemimpin yang mampu melakukan perubahan kebijakan
-
187. THARIQ ANWAR KARIM
Bintang fajar yang memancarkan cahaya kemuliaan
-
188. TSABIT HASNAIN HAMLAN
Dua kebaikan yang kokoh dan berdiri sendiri
-
189. TSAMIN FARID ADDIN
Permata agama yang sangat bernilai
-
190. TSANY ASMAR BANU
Putra kedua yang hitam manis
-
191. TUFAIL HARIRI JADID
Kain suteraku yang lembut dan baik
-
192. UKASYA ALIF
Laba-laba yang lembut dan ramah
-
193. ULWAN ASSYAKUR FAWWAZ
Anak laki-laki yang memiliki rasa syukur yang tinggi akan selalu beruntung
-
194. UMAR MUSLIM FAWWAZ
Pemimpin muslim yang selalu beruntung
-
195. UMRAN SAID FAUZAN
Anak laki-laki yang tumbuh dengan penuh kebahagiaan dan kemenangan
-
196. USAID DAFFA NAJID
Singa kecil penjaga yang gagah berani
-
197. USYAIR FAHMI AHSAN
Suami yang pengertian dan baik hati
-
198. WABIL TAMAM ASSADIQ
Anak laki-laki pemurah yang sempurna dan tulus dalam setiap ucapannya
-
199. WAFRIE BANU AKMAL
Kekayaanku adalah anak yang sempurna
-
200. WAHAB ABDULLAH NAFI
Pemberian Hamba Allah yang bermanfaat
-
201. WAHID HUMAM HABIBIE
Singa pertama kesayanganku
-
202. WAHNAN AMIN
Anak laki-laki yang mudah untuk dipercaya
-
203. WALI ADDIN KHALID
Pembela agama yang setia
-
204. WALID RIJAL SABAT
Anak laki-laki yang dilahirkan di hari ke tujuh
-
205. WALIDAN AMIN
Anak laki-laki yang dapat dipercaya
-
206. WARDIE MABKHUT
Bunga mawarku yang penuh dengan keberuntungan
-
207. WASHIF EL-HAMAM
Anak laki-laki yang memiliki karakter yang unik dan ambisi yang kuat
-
208. WAZIFUL KHALIL
Anak laki-laki kesayangan yang tekun dan gigih
-
209. WAZNI HAKAM
Haikim bijaksana yang menimbang secara adil
-
210. YAALA FARID BAHAR
Kemuliaan batu permata yang berkilau
-
211. YAFIQ ANNADIM RAFIF
Pendamping yang mulia dan berakhlak baik
-
212. YAQDHAN RAKHA ASSAID
Anak laki-laki waspada yang memiliki kehidupan yang enak dan bahagia
-
213. YASYKUR ARIEF
Anak laki-laki yang pandai bersyukur dan bijaksana
-
214. YAZDAN SHAHIB RAKI
Belas kasih sahabat yang menundukkan kepala
-
215. YAZID SYARIEF UMRAN
Anak laki-laki yang bertambah mulia dan makmur
-
216. ZAHRAN SHABIR
Indahnya kesabaran
-
217. ZAHWAN SAID MUSLIM
Anak laki-laki yang bangga dan bahagian menjadi muslim
-
218. ZAMIL SAIDAN KHALID
Orang yang berjalan cepat menuju kebahagiaan yang kekal
-
219. ZIKRIE YAZID BARA
Zikirku yang menambah ketaatan
-
220. ZUBAIR MALIK ANNAJMI
Raja bintang yang gagah perkasa
-
221. ZULFADHLI FAYYADH
Anak laki-laki dermawan yang mempunyai banyak kelebihan
-
222. ZULFAN AZHAR RAIHAN
Taman yang penuh bunga-bunga mewangi
-
223. ZULMI IKHWAN KHAIRI
Anak laki-laki yang sabar dan sopan adalah saudara yang baik
http://gagaje.blogspot.com/2013/05/20000-nama-islami-untuk-bayi-laki-laki.html
Langganan:
Postingan (Atom)



