Renungan Bagi yang akan menikah dan yang sudah menikah


Hari ini  sebelas tahun yang lalu, saya sedang menjalani perawatan pengantin di Puri Ayu Graha Indorama Kuningan, sebagai persiapan pesta pernikahan kami yang akan berlangsung tanggal 11 Oktober 1998.
Saat itu usia saya belum genap 24 th, dan seperti umumnya wanita muda, rasanya persiapan "fisik" terasa lebih penting bagi saya, dari pada pembekalan "mental" yang diberikan oleh Ibu saya.

Ah... betapa naifnya saya saat itu, menganggap bahwa saya sudah kenal betul karakter calon suami saya hanya karena kami sudah berteman lama sebelum memutuskan untuk menikah.
Sejak satu  tahun sebelum menikah, setelah diadakannya pertemuan antar dua keluarga inti kami, setiap saya hendak melangkahkan kaki keluar rumah, Ibu selalu bertanya, "Yeni, sudah kasih tau Fahly kalau mau pergi?"
Sungguh, saat  pertanyaan itu selalu membuat saya sebal. "Kenapa sih, Bu? Jadi suami aja belum... kok ribet banget sih..." protes saya gusar. "Karena semua pembelajaran perlu proses. Haram langkah seorang istri keluar rumah tanpa izin suami. Yeni akan kaget nanti, dan pasti akan sering lupa meminta izin, kalau baru menerapkannya setelah menikah."

Mengingat percakapan yang terjadi berulang kali dan sepanjang tahun itu, sungguh saya sangat bersyukur memiliki seorang Ibu yang tidak pernah putus asa mendidik putri bungsunya yang keras kepala ini, yang saat itu sangat percaya bahwa pernikahan yang baik adalah pernikahan modern yang menjunjung kesetaraan kedudukan antara suami dan istri.

Saat itu, "Suami ideal" bagi saya adalah suami yang bisa berkomunikasi dengan baik, tegas, bisa menghargai saya, mencintai orang tua dan keluarga saya, mau bekerja sama dalam mengurus rumah tangga dan mendidik anak, bla bla bla... segala hal positif lainnya.

Setelah menikah, saya menemukan kenyataan bahwa pernikahan ternyata tidak sesederhana anggapan saya sebelumnya, dan suami yang telah lama saya kenal sebagai teman, ternyata tidak semudah itu dimengerti karakternya.

Suami saya yang dulu sangat saya kagumi kemampuan berkomunikasinya saat kami masih bersama-sama berkecimpung di organinasi kami masing-masing di kampus, yang piawai dalam argumentasi dan mampu menengahi banyak masalah pelik di organisasi kepemudaan, ternyata diam seribu bahasa pada suatu saat, ketika saya membantahnya dengan mengajukan argumentasi.

Padahal saya berharap kami akan berdiskusi untuk mencari jalan tengah dari permasalahan kami.
Hari demi hari berlalu, satu demi satu, kekurangan suami muncul di depan mata saya. Saat itu, saya pun menjadi bingung... dan kecewa...

Di tahun-tahun awal pernikahan kami, kata adil dalam kamus saya adalah satu-satu, aksi-reaksi, jika saya bisa maka kamu juga seharusnya bisa, jika kamu tidak suka maka demikian juga saya... Dan pertanyaaan yang sering muncul di kepala saya adalah : "Mengapa seorang suami boleh pergi begitu saja, sedangkan istri haram langkahnya tanpa izin suami?".

Mengapa seorang suami pulang kerja bisa dengan leluasa pergi hang out dulu, sedangkan istri harus buru-buru pulang untuk mengurus anak dan rumah? Dan berbagai kata "Mengapa" bermunculan saat saya mempelajari dengan setengah hati bagaimana menjadi istri shalihah, sehingga yang saat itu muncul dalam pikiran saya adalah "betapa tidak adilnya Islam pada wanita"... Astaghfirullah... Semoga Allah mengampunkan prasangka buruk saya dulu...

"Yeni, jangan kamu lihat kekurangan suamimu... lihat kelebihannya saja..." nasehat Ibu kepada saya.
"Yeni, belajarlah untuk ikhlas. Ikhlas berarti kamu bisa menerima semua kekurangan suami tanpa ada kata, '"tapi". Jadikan pernikahan kamu sebagai ibadah..." ucapan seorang sahabat wanita yang sudah saya anggap kakak, mencoba mengetuk hati saya.

Tahun demi tahun kami lalui... Saya pun membuktikan bahwa berada di lingkungan yang positif mempengaruhi kita untuk berpikiran positif juga. Berada di lingkungan kerja dan lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi mahligai pernikahan membuat saya tidak gampang menyerah saat menemukan perbedaan prinsip dalam beberapa aspek kehidupan kami.

Wejangan tak putus dari Ibu saya, yang selalu meminta saya mengoreksi diri sendiri sebelum menyalahkan suami, membuat mata saya mulai terbuka, betapa saya pun tidak sempurna sebagai seorang pribadi, istri dan ibu. Jadi pantaskah jika saya menuntut suami saya berakhlak seperti Rasulullah jika saya sendiri tidak berakhlak seperti Ibu Khadijah?

Sebagai pribadi, saya terkadang dominan, karena terbiasa pendapat saya didengar dan dipertimbangkankan. Sebagai istri, saya masih kurang mengabdi (jauh sekali jika dibandingkan dengan pengabdian Ibu saya kepada Papa).

Sebagai ibu, di saat lelah saya terkadang menjadi kurang sabar. Masih banyak lagi kekurangan dan kesalahan yang pernah saya perbuat, yang mungkin jika saya tulis satu per satu akan membuat penuh lembaran buku dosa saya. Namun suami saya menerima hal itu, dan tidak melemparkan kritik sama sekali kecuali saya sudah keterlaluan.

Saya pun mulai belajar menjadi "paranormal" - istilah saya untuk orang yang tau sesuatu tanpa diberitahu secara lisan dengan mulai mempelajari reaksi suami saya - expresi wajah, sorot mata, garis mulut, bahasa tubuhnya - dari berbagai kejadian.

Setelah mulai memahami, barulah saya menyadari, bahwa suami saya tidak mau mendebat saya dalam diskusi justru karena cinta, karena dia tidak ingin menyakiti hati saya dengan kata-kata... Tidak adanya kritikan dan protes keras yang dia sampaikan atas sifat-sifat saya yang mungkin tidak berkenan di hatinya belum tentu karena dia tidak apa-apa, melainkan karena dia ingin saya berubah atas kesadaran saya sendiri, bukan karena terpaksa.

Akhirnya saya mengerti, bahwa dengan diamnya, suami saya menunjukkan toleransinya, dan dengan maaf yang dia berikan atas kesalahan-kesalahan yang saya perbuat, suami saya menunjukkan cintanya...
Teman-teman pria di sekeliling saya dan teman-teman wanita disekeliling suami saya pun menjadi penguji kekuatan cinta kami... membuktikan bahwa cinta memang harus terus dipelihara, dipupuk dan diperjuangkan. Berpulangnya putri tercinta kami ke rahmatullah pun menjadi penguat cinta kami, sekaligus membuktikan bahwa kami memang benar-benar saling membutuhkan, kami butuh saling menguatkan...

Saya mulai belajar untuk selalu memperbaiki diri, meskipun perlahan dan rasanya tidak akan pernah sepenuhnya berhasil jika mengingat tidak ada manusia yang sempurna.
But at least, saya terus berusaha, meski tidak mudah, dan dengan diiringi doa, tanpa meributkan siapa yang salah, mulai dari diri saya sendiri, dan tanpa menunggu apalagi meminta suami saya melakukan perubahan terlebih dulu.

Saya percaya Allah maha membolak-balikkan hati. Insya Allah, suami saya akan tergerak hatinya jika melihat saya sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri, dan bukan mustahil dia akan melakukan hal yang sama.
Saya pun mulai belajar melihat kelebihan suami saya, mengingat semua hal yang dulu membuat saya jatuh cinta.

Pada kegigihannya mendapatkan cinta saya, meskipun dia tidak piawai menyatakannya dengan kata-kata pada usahanya memperjuangkan hubungan cinta kami agar direstui kedua keluarga, pada rasa sayang dia kepada orang tua dan keluarga saya, pada waktu yang selalu dia luangkan untuk ikut kumpul bersama arisan keluarga saya, pada kemampuannya menjadi teman dan sahabat bagi saya dan bagi setiap anggota keluarga besar saya... pada usahanya yang tak kenal putus untuk membahagiakan saya meskipun dengan caranya sendiri.  Dan... masih banyak lagi.

Subhanallah... ternyata sungguh banyak kelebihan suami saya jika saya berniat menggalinya, sehingga kekurangannya tidak lagi terasa berarti...
Tiga  tahun terakhir ini, saya mulai belajar melihat pernikahan saya sebagai ibadah. Bagaimana memahami dan mengurus suami serta mendidik anak merupakan ladang amal yang luas bagi seorang istri dan ibu.
Lewat perjalanan yang cukup panjang, meskipun bukan mendapatkan pencerahan dari pengajian dan hanya merupakan visi saya, pribadi saya mulai memahami arti Allah menciptakan manusia berpasangan. Bukan hanya jenis kelamin, tapi juga sisi kelebihan dan kekurangannya...

Seperti dalam pernikahan kami, semua kekurangan suami saya lengkapi dengan kelebihan saya, sebagaimana dia melengkapi banyak kekurangan saya dengan kelebihannya. Terbayang oleh saya, jika suami saya mampu mengerjakan semuanya sendiri, untuk apa lagi ada saya? Pasti akan sangat menyedihkan menjadi orang yang tidak dibutuhkan...

Lewat introspeksi diri yang panjang pula - karena saya hanya diberitahu tentang hadist mengenai haramnya langkah seorang istri tanpa izin suami tanpa penjelasan mengapa hal tersebut diharamkan dan riwayat diangkatnya ke surga seorang ibu yang memiliki putri yang tidak datang saat beliau meninggal karena belum mendapat izin dari suami yang sedang pergi keluar rumah - saya akhirnya mengambil hikmah pribadi betapa Rasulullah menganggap pentingnya komunikasi antar suami istri.

Karena jika komunikasi suami dan istri sangat baik, suami istri saling memahami dan terbiasa berkompromi, rasanya tidak akan mungkin suami tidak memberikan izin langkah seorang istri selama disampaikan secara santun, untuk tujuan yang baik dan tidak mengabaikan tugas istri yang lebih utama.

Saya pun jadi berpikir, jika pergi keluar rumah tanpa izin suami tidak diharamkan, akankah saya berusaha mati-matian untuk mengenal, memahami dan berkomunikasi efektif dengan suami saya?
Mungkin tidak, karena toh tidak berdosa saya jika saya pergi tanpa izinnya. Namun, karena hal tersebut diharamkan, yang berarti saya berdosa jika pergi keluar rumah tanpa izin, pastinya saya akan berusaha mencari jalan bagaimana agar halal langkah saya, agar tidak bertambah buku dosa saya. Akibat usaha tersebut, suami saya pun benar-benar menjadi belahan jiwa saya.

Akhirnya saya pun harus mengakui betapa adilnya Islam terhadap wanita... Karena meskipun terasa berat tugas dan tanggung jawab seorang istri di dunia dalam pandangan masyarakat kita, namun di akhirat nanti dia hanya menanggung dirinya sendiri.

Sedangkan meskipun terlihat enak menjadi suami di dunia dalam pandangan masyarakat kita, namun di akhirat justru paling berat tanggung jawabnya karena suami berkewajiban membimbing anggota keluarganya - istri dan anak-anaknya - sehingga baik buruknya akhlak istri dan anak-anak tidak lepas dari tanggung jawab suami pula.

Pun begitu banyaknya ladang amal bagi seorang wanita. Melahirkan sebagai jihad, mengurus suami dan anak sebagai jihad... sedangkan laki-laki harus pergi keluar untuk membela agama dulu baru terhitung jihad ...
Well, saya hidup di dunia hanya sementara kan? Jadi, mengapa seolah hidup hanya mempermasalahkan beban berat seorang istri di dunia sedangkan di depan mata terhampar ladang amal yang luas untuk bekal hidup di akhirat kelak?

Mungkin sebenarnya perjuangan saya akan lebih sederhana jika saya datang kepada ahli agama. Karena semua aturan dan bagaimana hubungan yang baik dalam rumah tangga, sudah di riwayatkan melalui contoh-contoh dalam hadist Rasulullah.

Namun karena segala keterbatasan diri saya, saya harus menempuh jalan yang panjang, dengan jatuh bangun pula... Bagaimanapun sulitnya, alhamdulillah, semua itu saya anggap sebagai sarana pendewasaan diri saya...
Sejak tiga tahun yang lalu, Alhamdulillah, saya telah belajar untuk ikhlas... Mengurus rumah tangga dan mendidik anak pun sudah menjadi suatu kenikmatan bagi saya, semula hanya karena mengingat nilai ibadahnya, dan akhirnya juga karena bahagia mengerjakan prosesnya dan melihat hasilnya.

Dulu, jika ada tugas rumah tangga yang saya kerjakan yang seharusnya merupakan porsi tugas suami, saya terkadang berkata, "Saya ikhlas kog mengerjakannya, tapi kan seharusnya suami saya bisa mengerjakan itu..." (yang benar kata sahabat wanita saya bahwa adanya kata Tapi itu pertanda jauh di dalam lubuk hati saya belum ikhlas.

Saat ini, Alhamdulillah, jika ada yang bertanya, saya sudah bisa hanya berkata, "Ya, saya ikhlas mengerjakannya.", sambil tersenyum pula.
Tulisan ini saya persembahkan untukmu, Ahmad Fahly Riza, suami tercinta, yang saya berikan lebih awal dengan niat sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kita yang ke 11 di tanggal 11 Oktober 2009.
Saya tulis ini sebagai perwujudan cinta dan rasa syukur saya karena memiliki suami yang pemaaf dan penuh cinta... suami yang karena karakternya membuat saya belajar banyak untuk dunia dan akhirat saya...
Meskipun mungkin kelak masih akan ada ujian dari Allah bagi cinta kita - semoga Allah selalu menyelamatkan bahtera rumah tangga kita - saat ini izinkan saya nyatakan pada dunia bahwa saya mencintaimu seutuhnya, karena Allah semata...
Semoga tulisan ini bisa menjadi manfaat bagi semua yang membaca, terutama bagi yang akan menikah, bahwa memasuki ambang pernikahan bukan dengan niat utama untuk ibadah akan menghasilkan banyak kekecewaan...

Pun, bagi yang sudah dan masih menikah, tidak ada kata terlambat untuk mulai menjadikan pernikahan sebagai sarana menuju surga disamping sebagai surga dunia...
Jakarta, 8 Oktober 2009
Yeni Suryasusanti

nb: Subhanallah.....
thx yeni ats masukannya smga berguna bagi smua...salam hangat untuk keluarga

Doa untuk Pernikahan



Ya Allah,
Andai Kau berkenan, limpahkanlah rasa cinta kepada kami,
Yang Kau jadikan pengikat rindu Rasulullah dan Khadijah Al Qubro
Yang Kau jadikan mata air kasih sayang
Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra
Yang Kau jadikan penghias keluarga Nabi-Mu yang suci.

Ya Allah,
Andai semua itu tak layak bagi kami,
Maka cukupkanlah permohonan kami dengan ridlo-Mu
Jadikanlah kami Suami & Istri yang saling mencintai di kala dekat,
Saling menjaga kehormatan dikala jauh,
Saling menghibur dikala duka,
Saling mengingatkan dikala bahagia,
Saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan,
Serta saling menyempurnakan dalam peribadatan.

Ya Allah,
Sempurnakanlah kebahagiaan kami
Dengan menjadikan perkawinan kami ini sebagai ibadah kepada-Mu
Dan bukti ketaatan kami kepada sunnah Rasul-Mu.

Ya Allah…
Indahkanlah rumah kami dengan kalimat-kalimat-Mu yang suci. Suburkanlah kami dengan keturunan yang membesarkan asma-Mu. Penuhi kami dengan amal shaleh yang Engkau ridhai. Jadikan mereka Yaa…Allah teladan yang baik bagi manusia.

Ya Allah…
Damaikanlah pertengkaran di antara kami, pertautkan hati kami, dan tunjukkan kepada kami jalan-jalan keselamatan. Selamatkan kami dari kegelapan kepada cahaya. Jauhkan kami dari kejelekan yang tampak dan tersembunyi.

Ya Allah…
Berkatilah pendengaran kami, penglihatan kami, hati kami, suami/isteri kami, keturunan kami dan ampunilah kami. Jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang mukmin.

Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Amiin…

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: “Diperlihatkan neraka kepadaku. Ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita yang kufur.” Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah para wanita itu kufur kepada ALLOH?” Beliau menjawab : “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka satu masa, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata : Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu.” (HR. Al- Bukhari )

100 Resep untuk memperoleh hati yang tenang




1. Bersyukur apabila mendapat ni'mat

2. Sabar apabila mendapat kesulitan

3. Tawakal apabila mempunyai rencana/program

4. Ikhlas dalam segala amal perbuatan

5. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan

6. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan

7. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan

8. Jangan usil dengan kekayaan orang

9. Jangan hasud dan iri atas kesuksesan orang

10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan

11. Jangan tamak kepada harta

12. Jangan terlalu ambisius akan sesuatu kedudukan

13. Jangan hancur karena kezaliman

14. Jangan goyah karena fitnah

15. Jangan bekeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri

16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram

17. Jangan sakiti ayah dan ibu

18. jangan usir orang yang meminta-minta

19. Jangan sakiti anak yatim

20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar

21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil

22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid)

23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu

24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah dan di masjid

25. Biasakan shalat malam

26. Perbanyak dzikir dan do'a kepada Allah

27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat

28. Sayangi dan santuni fakir miskin

29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah

30. Jangan marah berlebih-lebihan

31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan

32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah

33. Berlatihlah konsentrasi pikiran

34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena

sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi

35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syetan

36. Jangan percaya ramalan manusia

37. Jangan terlampau takut miskin

38. Hormatilah setiap orang

39. Jangan terlampau takut kepada manusia

40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala.

41. Bersihkan harta dari hak-hak orang lain

42. Berlakulah adil dalam segala urusan

43. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah

44. Bersihkan rumah dari patung-patung berhala

45. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran

46. Perbanyak silaturahmi

47. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk islam

48. Bicaralah secukupnya

49. Beristri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya

50. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu

51. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur

52. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin

53. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga

54. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan

55. Hormatilah kepada guru dan ulama

56. Sering-sering bershalawat kepada nabi

57. Cintai keluarga Nabi saw.

58. Jangan terlalu banyak hutang

59. Jangan terlampau mudah berjanji

60. Selalu ingat akann saat kematian dan sadar bahwa kehidupan dunia adalah

kehidupan sementara

61. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti

mengobrol yang tidak berguna atau merokok dll.

62. Bergaullah dengan orang-orang shaleh

63. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar

64. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu

65. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita

66. Jangan dendang dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan

kejahatan lagi

67. Jangan membenci seseorang karena paham dan pendirian

68. Jangan benci kepada orang yang membenci kita

69. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuai pilihan

70. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan

71. Jangan melukai hati orang lain

72. Jangan membiasakan berkata dusta

73. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian

74. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab

75. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan

76. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita

77. Jangan membuka aib orang lain

78. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang

lebih berprestasi dari kita

79. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana

80. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan

81. Jangan minder karena miskin dan jangan sombong karena kaya

82. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara

83. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain

84. jangan membuat orang lain menderita dan sengsara

85. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa

86. Hargai prestasi dan pemberian orang

87. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan

88. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak

menyenangkan

89. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama

dan kondisi diri kita

90. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisik atau mental kita menjadi

terganggu

91. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana

92. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah

untuk melupakan jasa kita

93. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu, dan jangan

berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina

94. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita,

sebelum dicek kebenarannya

95. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban

96. Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan

keramahan dan tidak berlebihan

97. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan diri

98. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tantangan. Jangan lari

dari kenyataan kehidupan

99. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap

kejahatan akan melahirkan kerusakan

100. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan

memiskinkan orang

Jangan Stres! Duduk dan Diamlah!


KOMPAS.com - Memang mustahil hidup tanpa stres. Namun bila stres melanda Anda tak perlu melarikan diri, bahkan sampai mengonsumsi obat-obatan penenang. Cukup luangkan waktu sejenak untuk melakukan meditasi.

Penelitian menunjukkan, meditasi yang dikombinasikan dengan terapi bicara, yang disebut dengan mindfulness meditation bisa melepaskan rasa stres, bahkan depresi.

"Depresi bisa menjebak orang pada pikiran-pikiran negatif, seperti 'saya tidak cukup baik', atau 'tak ada orang yang menyukai saya'. Hal ini bisa menyebabkan hilangnya rasa menghargai diri," kata Profesor Willem Kuyken dari the Mood Disorder Centre dari Exeter University, Inggris.

Meditasi akan membantu kita melihat pikiran-pikiran negatif sebagai sesuatu yang keliru. Pikiran kita juga akan dilatih untuk melihat stres sebagai sesuatu yang dapat diatasi.  Dalam studinya, Kuyken dan timnya menemukan bahwa meditasi sama efektifnya dengan penggunaan obat anti depresan dalam jangka panjang.

Meditasi yang dilakukan tidak harus dengan duduk bersila dalam ruangan atau waktu khusus. Kuyken mengatakan dengan menutup mata sejenak, memfokuskan pikiran dan melepaskan ketegangan juga bisa dipakai sebagai bentuk meditasi.

Anda juga boleh menyugesti diri sendiri saat bermeditasi. Tanamkan dalam hati nilai-nilai positif tentang diri sendiri, misalnya "Saya mampu mengerjakan tugas ini."

Berbagai studi ilmiah melaporkan berbagai manfaat meditasi, antara lain membuat otak lebih rileks, memulihkan keseimbangan saraf dan kesegaran tubuh, memperkuat daya tahan tubuh, melatih konsentrasi, dan sebagainya.

Hipnotis diri sendiri


KOMPAS.com - Hipnosis bisa Anda lakukan sendiri. Sebelumnya Anda harus memastikan rumusan program yang ingin Anda tanamkan dalam alam bawah sadar Anda.

Ada banyak program yang bisa dibuat, seperti "Aku makin hari makin sehat", "Hari demi hari rasa sakit yang kualami makin ringan", "Hasrat seksual saya makin kuat dan mudah mencapai orgasme," dan masih banyak lagi.

Untuk menghipnosis diri sendiri, coba lakukan tahapan berikut ini:

1. Rileksasi
Kendurkan seluruh otot yang tegang. Untuk mengetahui perbedaan bahwa otot mengendur, tegangkan otot-otot mulai dari telapak kaki sampai kepala selama beberapa detik lalu kendurkan. Kontrol napas dan kosongkan pikiran.

Hirup napas dalam-dalam secara perlahan, tahan beberapa saat, lalu embuskan perlahan.  Tiap kali mengembuskan napas, bayangkan seolah membersihkan tekanan dari tubuh.

2. Pendalaman rileksasi
Pada tahap ini kita bisa sangat rileks sampai hampir seperti tidur meski tetap sadar dan terjaga. Tanda-tanda rileks bisa dirasa dari semua organ tubuh, mata, mulut, otot lengan, sampai kaki serta napas. Patokannya otak mulai santai.

Salah satu cara memperdalam rileksasi adalah dengan menghitung mundur dalam hati, misalnya mulai dari 100. Jangan menghitung maju karena justru membuat pikiran berjalan terus. Bila ada gambaran dan pikiran menyelinap saat menghitung, biarlah. Itu hal yang wajar. Teruslah menghitung.

Penghitungan dilakukan dengan kecepatan yang membuat kita nyaman dan rileks, kira-kira 2-3 detik setiap hitungan. Beberapa orang suka menghubungkan hitungan dengan napas mereka. Saat kondisi sudah lebih dalam, napas melambat sehingga hitungan juga melambat.

3. Begitu mencapai akhir pendalaman, masukkan rekaman-rekaman positif (program).
Hindari kata ganti orang kedua. Gunakan kata ganti saya. Sugesti harus spesifik, secara teknis benar dan ditanamkan secara teratur di bawah kondisi yang benar. Rumusan sugesti musti singkat.

Perlu eksperimen untuk menemukan metode paling efektif dalam menanamkan sugesti bagi diri sendiri. Ada yang bisa langsung merasakan hasilnya. Ada juga yang butuh waktu lama. Jika dalam waktu lama Anda merasa tak ada perubahan, perlu ada perubahan sugesti.

4. Begitu selesai memberi program, hipnosis selesai.
Anda harus memberi batasan yang jelas antara keadaan hipnotik dan sadar. Ini mencegah kita supaya tidak tertidur. Untuk mengakhiri hipnosis diri, pikirkan bahwa Anda akan bangun. Siap-siaplah untuk itu, misalnya dengan menghitung sampai tiga.

Hipnosis diri relatif mudah dipelajari dan dilakukan. Ini adalah bentuk keterampilan. Jadi, selain pengetahuan, diperlukan latihan terus-menerus untuk meningkatkan kemampuan. (GHS/abd)